Berdamai dengan Penderitaan (Ayub 1:1-5; 13-22; 2:7-10)

Ketika kita membaca kisah Ayub, mungkin kita merasa bahwa kisah ini adalah kisah yang terlalu dilebih-lebihkan. Kita menganggap bahwa kisah Ayub tidak mungkin sungguh-sungguh terjadi. Bagaimana mungkin seorang yang memiliki keluarga dan harta yang banyak dapat kehilangan semua itu bersamaan dalam sehari? Suatu fakta yang mungkin bagi kita sulit diterima dan sulit dilihat padanannya pada masa kini. Tetapi sesungguhnya, beberapa kisah pilu mirip pengalaman Ayub terjadi juga di masa kini.
            Di Cimahi 2010 lalu, terjadi perampokan sebuah toko besi. Para perampok bukan hanya mengambil uang sang pemilik toko, tetapi juga ambil nyawa sang pemilik. Tiga orang meninggal pada perampokan itu: Bapak Karnadi, isterinya dan anaknya yang bernama Rudi (http://www.tempo.co/read/news/2010/08/26/178274306/Motif-Perampokan-Cimahi-Diduga-Dendam-Campur-Ekonomi).
            Kisah yang hampir sama pernah terjadi di Probolinggo-Jawa Timur. Terjadi perampokan yang kembali menghabisi bukan hanya harta tetapi juga nyawa para korban. Pada perampokan di Probolinggo ini keluarga yang dibantai berjumlah empat orang (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/21/137578/Perampok-Sadis-Habisi-Empat-Korban).
            Jadi perampok-perampok itu tidak lagi bertanya minta serahkan harta atau nyawa, tetapi serahkan harta dan nyawa.

Penderitaan dialami oleh orang Percaya
            Salah satu poin yang sangat menarik dari kisah Ayub adalah karena musibah atau penderitaan berat ini menimpa seorang yang sangat mencintai Tuhan, seorang yang meninggikan Tuhan dalam hidupnya.
            Ayub 1:1 menyatakan ”Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Ayub 1:5 menyatakan bahwa Ayub juga berupaya menguduskan keluarganya. Setiap kali anak-anaknya usai pesta, ia menguduskan mereka. Tiap pagi Ayub mempersembahkan kurban bakaran sebanyak anak-anaknya. Dan perhatikan kalimat terakhir ayat ini, “ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Kata “senantiasa” menunjukkan sikap taat yang konsisten, bukan musiman. Ayub konsisten menjaga anak-anaknya dari dosa.
             Seorang yang mengasihi Tuhan, saleh, jujur, menjauhi kejahatan dan konsisten menjaga anak-anaknya dari dosa, justru mengalami penderitaan yang begitu rupa.
            Seorang misionaris bernama Hudson Taylor. Hudson sejak umur 5 tahun sudah berkeinginan suatu saat menyerahkan hidupnya sebagai seorang misionaris. Ketika dewasa itu benar-benar terjadi. Ia menjadi seorang misionaris yang melayani di China. 
            Apakah komitmennya untuk Tuhan membuatnya jauh dari penderitaan? Jawabannya, Tidak! Justru karena komitmen dan panggilan sebagai misionaris, membuatnya pernah ditolak oleh wanita yang ia cintai. Meski akhirnya ia menikahi seorang gadis bernama Maria. Penderitaannya tidak berhenti. Rumahnya di China dirusak dan dibakar. Dalam kurun waktu setahun, ia kehilangan anaknya yang berumur 5 tahun, putranya yang baru berumur 2 minggu, dan tidak lama kemudian isterinya, Maria juga meninggal. Penderitaan bertubi-tubi dialami oleh seorang yang menyerahkan hidupnya untuk pekerjaan Tuhan.
            Ketika kita merenungkan kebenaran ini, kita diingatkan bahwa orang Kristen tidak kebal penderitaan. Kita mungkin saja mengalami penderitaan dalam hidup ini. Jadi janganlah kita menganggap ketika kita percaya pada Tuhan, jadi pengurus di persekutuan, menjadi pendeta atau penginjil, maka kita orang yang tidak mungkin lagi mengalami masalah, penderitaan dan pergumulan dalam hidup.
             
Berdamai dengan Penderitaan
            Terbuka terhadap penderitaan bukan berarti mencari-cari penderitaan, masalah dan pergumulan. Kisah Ayub mengajarkan kita untuk terbuka akan adanya penderitaan dalam hidup orang percaya, tetapi kisah Ayub tidak mendorong kita cari-cari alasan supaya menderita.
            Ketika Ayub mengalami kehilangan yang bertub-tubi, ketekunan Ayub dalam penderitaan sangat menonjol. Ia begitu kuat menghadapi penderitaan yang ia alami. Apa rahasianya?


1.      Ayub menyadari segala sesuatu dalam hidupnya adalah anugerah
Ayat 21 menunjukkan bagaimana Ayub menyadari bahwa dirinya telanjang keluar dari kandungan ibunya. Semua yang dimilikinya ternak, anak adalah anugerah Tuhan. Ketika itu diambil Ayub tetap memuji Tuhan.
Mengapa seorang banyak protes dan bahkan meninggalkan Tuhan ketika menderita? Karena ia tidak menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah anugerah dari Tuhan.

2.      Ayub mengasihi Tuhan karena pribadiNya bukan karena berkatNya
2:7-10 dinyatakan bahwa penderitaan Ayub belum usai. Ia kini menderita penyakit barah yang busuk. Isterinya yang harusnya mendukungnya justru mendorongnya untuk menanggalkan kesalehan dan mengutuk Tuhan. Sekali lagi Ayub tetap bertahan.
Bagi Ayub kesalehannya tidak ditopang oleh berkat Tuhan tetapi pribadi Allah yang Agung. Ayub tetap mengasihi Tuhan ketika berada pada puncak penderitaannya. Hartanya diambil, anaknya diambil, kesehatannya diambil dan isterinya mengkhianatinya.

            Apakah kita menyadari bahwa hidup kita ini adalah anugerah? Apakah kita mengakui bahwa apa yang kita dapatkan saat ini adalah anugerah? Dan Apakah kita mencintai Allah karena pribadi atau karena berkatnya? Kita tidak mungkin memahami itu sampai kita benar-benar masuk ke dalam penderitaan itu sendiri.
Orang yang dapat bertahan dalam penderitaan adalah seorang yang menyadari bahwa apa yang ada padanya adalah anugerah Allah. Kita dapat bertahan dalam penderitaan ketika kita mencintai Allah karena pribadiNya yang Agung bukan karena berkatnya.
Saat ini mungkin saudara mengalami pergumulan, atau masalah dalam studi atau pekerjaan, pelayanan atau dalam keluarga. Ini adalah SAAT PEMBUKTIAN apakan saudara menyadari bahwa apa yang saudara miliki adalah anugerah Tuhan dan SAAT MENUNJUKKAN bahwa saudara mengasihi Allah karena PribadiNya dan bukan karena berkatnya.

Support Blog

Support blog ini dengan subscribe Channel Youtube Victor Sumua Sanga dengan klik tombol di bawah: