KEHIDUPAN KRISTEN YANG BERINTEGRITAS (Kej 39:10-11; Ayb 2:9; Mzm 119:9)

Pendahuluan
            Saudara-saudara, setiap tahun ada beberapa kamus online yang melaporkan kata-kata yang paling sering dicari dalam website mereka. Tahun 2005 yang lalu, beberapa kata yang paling populer adalah pengungsi, wabah, tsunami dan tanggul. Hal ini dapat dipahami karena bencana-bencana alam yang begitu sering terjadi pada tahun itu. Akan tetapi ada satu kamus online yang terkenal lainnya yaitu Merriam-Webster Online Dictionary melaporkan bahwa kata dalam kamus mereka yang paling sering dicari adalah INTEGRITAS. Yang mereka definisikan “suatu kesetiaan yang tetap kepada aturan-aturan moral atau nilai-nilai seni tertentu”. Kata ini dipakai untuk menggambarkan mereka yang tidak ingin disuap atau tidak ingin memiliki moral yang jahat. Pertanyaannya mengapa kata ini paling sering dicari? Apakah itu karena integritas telah menjadi langka sehingga orang tidak lagi dapat memahami bagaimana kehidupan seorang yang berintegritas?
            Saudara-saudara integritas itu sangat diperlukan. Ketika saudara ingin mempekerjakan orang atau menerima karyawan, tentu saja anda ingin orang tersebut memiliki ketaatan pada aturan kerja di perusahaan anda. Bahkan ketika saudara ingin mencari seorang pembantu rumah tangga atau baby sitter, tentu saja saudara berharap dia adalah orang yang bertanggung jawab penuh, memiliki kesetiaan yang tetap dan itu adalah orang yang  berintegritas. Dan yang paling penting adalah ketika saudara mencari pasangan hidup atau mungkin menantu, tentulah sangat diperlukan seorang yang berintegritas, yang setia pada komitmen pernikahan kelak. Atau jika kita mengevaluasi hidup kita sekarang, baik itu di rumah, di tempat kerja apakah kita orang yang berintegritas?
            Saudara-saudara, hari ini ada berita gembira buat saudara yang menggumulkan hal yang sama. Dari firman Tuhan hari ini kita akan belajar tentang integritas. Apa itu integritas, bagaimana mengetahui seseorang memiliki integritas atau tidak dan bagaimana memiliki hidup yang berintegritas.

Saudara-saudara, Dalam Alkitab kita, kata INTEGRITAS tidak ada. Kata ini yang dalam bahasa Inggrisnya integrity yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi beberapa makna antara lain:
·         Tulus hati. misalnya dalam 1 Raja-raja 9:4  “Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku”
·         Saleh. Ayub 2:3  Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.”
·         Tidak bersalah.  Ayub 31:6  biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah.
·         Bersih kelakuannya. Amsal 19:1  Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal.
Saudara-saudara dari terjemahan kata integrity dalam Alkitab kita ini, kita dapat melihat bahwa seorang yang berintegritas adalah seorang yang melakukan sesuatu yang benar, memiliki ketulusan hati tidak pura-pura, ia seorang yang saleh.
Bruce Weinstein dikenal sebagai “Etikawan.” Buku-bukunya dan seminar-seminarnya menantang orang-orang untuk membuat keputusan berdasarkan prinsip tertentu dan bukan berdasarkan kesenangan atau ketertarikan. Dalam suatu workshop yang diadakan ia bertanya kepada para peserta mengapa kita harus menjadi orang yang berintegritas? Ia mengatakan bahwa kebanyakan jawaban atau respon berpusat pada keuntungan yang didapatkan dari memiliki hidup yang jujur atau sesuai dengan moralitas – ketimbang harus mendapatkan hukuman karena tidak hidup dengan berintegritas. Memang Bruce mengakui banyak keuntungan yang diperoleh dengan memiliki hidup yang berintegritas namun ia sangat menekankan bahwa kita harus berintegritas karena memang itu adalah hal benar yang harus dilakukan.

Saudara-saudara, seorang yang berintegritas tidak melihat pada apa yang akan didapatkannya dengan hidup yang berintegritas namun ia lebih melihat pada kebenaran yang harus ia lakukan. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengetahui seseorang memiliki hidup yang berintegritas atau tidak? Apa indikatornya?
Saudara-saudara, kita akan melihat dalam Alkitab beberapa tokoh yang memiliki kehidupan yang berintegritas dan belajar bagaimana mengetahui seseorang itu berintegritas atau tidak.
Yang pertama mari kita membuka dari Kejadian 39:10-11. Demikian firman Tuhan:
“Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah.”
(P) Saudara-saudara, Yusuf adalah seorang yang manis sikapnya dan elok parasnya. Ia juga seorang yang bertanggung jawab dalam tugasnya. Tuhan memberkati Yusuf dengan membuat berhasil segala usaha yang Yusuf kerjakan. Dalam kisah ini Yusuf tinggal di rumah Potifar. Karena keberadaannya Potifar pun diberkati Tuhan. Yusuf diberi kepercayaan menjadi orang nomor dua di rumah Potifar. Saudara-saudara, selang beberapa waktu kemudian isteri Potifar memandang Yusuf dengan berahi dan Alkitab mencatat bahwa dari hari ke hari ia membujuk Yusuf tetapi Yusuf menolak. Dan bahkan ketika seorang pun tidak ada di rumah Yusuf tetap menolak.
Saudara-saudara yang kekasih, bukan hal yang mudah mempertaruhkan jabatan yang telah ia peroleh dari usahanya bertahun-tahun, dengan segala kemapanan dan keberhasilannya. Yusuf menyadari betul penolakannya akan membawa masalah pada dirinya. Hal lain lagi, isteri Potifar adalah seorang wanita yang cantik sebab sudah suatu kepastian bahwa isteri petinggi-petinggi Mesir akan mempunyai isteri yang cantik. Saudara-saudara, Yusuf tetap menolak. Bahkan dikatakan “Yusuf berlari ke luar.” Kata “lari” di bagian ini sering untuk menunjukkan seseorang yang melarikan diri ketika kalah perang sehingga ia tidak mati terbunuh. Dengan kata lain, bagi Yusuf jika ia tetap tinggal dalam rumah itu sama saja dengan mati. Yusuf memiliki sikap yang tetap setia dari hari ke hari dan meskipun ada atau tidak seorang yang melihatnya.
Saudara-saudara, dari bacaan ini terlihat jelas 2 ciri orang yang berintegritas, yaitu:
  1. Tetap melakukan kebenaran dari hari ke hari.
  2. Tetap melakukan kebenaran meski seorang pun tidak ada.
(A) Saudara-saudara, mudah untuk kita taat pada suatu kebenaran atau aturan jika kita diuji sekali saja. Namun bagaimana jika ujian itu datang setiap hari? Bagaimana kalau kita digoda setiap waktu? Sanggupkah kita bertahan? Kita mungkin tidak berdosa atau taat pada satu aturan jika ada orang yang melihat tetapi mungkin akan lain jika tidak ada orang yang melihat? Orang yang berintegritas adalah orang yang tetap taat meski dicobai dari hari ke hari dan ada atau tidak ada orang yang melihat. Contoh yang paling sederhana ketika saudara berada di jalan dan lagi terburu-buru, mungkin saudara akan dengan mudah melanggar rambu lalu lintas jika tidak ada polisi yang menjaga. Bagi para remaja dan pemuda apakah saudara taat ketika tidak ada orang tua di sisi saudara, ketika tidak ada yang melihat saudara? Dalam pekerjaan kita, apakah kita setia pada tanggung jawab kita tidak mencuri-curi waktu atau menyelewengkan dana perusahaan, jujur dari hari ke hari dan ketika tidak ada orang yang melihat tindakan kita? Saudara-saudara, kehidupan yang berintegritas memiliki banyak manfaat namun bukan itu alasan kita hidup berintegritas. Kita hidup berintegritas karena memang hal itu yang benar untuk dilakukan.
Yang kedua, mari kita belajar kehidupan yang berintegritas dari Ayub. Mari kita membuka Ayub 2:9, demikian firman Tuhan:
‘Maka berkatalah isterinya kepadanya: “masih bertekunkan engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’
(P) Saudara-saudara, kata “kesalehan” di bagian ini dalam versi Inggris diterjemahkan “integrity.” Jadi sebenarnya isteri Ayub berkata: “masih bertekunkah engkau dalam integritasmu?”
            Saudara yang kekasih, Ayub dalam bagian yang kita baca mengalami begitu banyak kesengsaraan: seluruh harta bendanya habis dalam sekejab, bukan cuman itu saja, 10 anaknya mati dalam sehari dan terlebih lagi bahkan saat itu tubuhnya dipenuhi dengan borok-borok yang menjijikkan. Ayub sangat menderita. Akan tetapi dalam kesemuanya itu Ayub tidak meninggalkan Tuhan. Ia tidak menghujat Tuhan akan penderitaan berat yang ia alami. Ayub beda dengan isterinya, mereka mengalami hal yang sama, kesengsaraan dan kesedihan yang sama. Namun apa yang disarankan isteri Ayub menunjukkan bahwa bagi dia dalam situasi yang begitu menderita integritas seharusnya tidak perlu dipertahankan. Saudara-saudara, ada penafsir yang menyebut isteri Ayub sebagai “utusan Iblis”, “alat setan.” Sebab ia memberikan saran yang sama dengan yang setan katakan dalam 1:11 dan 2:5. Wanita ini yang seharusnya mendorong dan menghibur Ayub untuk tetap percaya pada Allah atau hidup berintegritas, namun sebaliknya ia sebagai orang yang terdekat, justru yang mengajak Ayub mengutuki Allah. Saudara-saudara, Ayub berbeda. Di tengah-tengah penderitaannya, ia tetap sabar dan berintegritas. Ketika orang terdekatnya tidak mendukungnya ia tetap berintegritas.
            Inilah kehidupan yang berintegritas:
  1. Tetap melakukan kebenaran meski mengalami penderitaan yang berat.
  2. Tetap melakukan kebenaran meski orang terdekat tidak mendukung.
(A) Saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus, kadang integritas kita harus dicobai dengan penderitaan yang kita alami. Kehidupan yang benar tidak membuat kita bebas dari penderitaan. Justru penderitaanlah yang menguji kemurnian integritas kita. Kita dapat taat jika kita didukung oleh orang-orang di sekitar kita, namun bagaimana jika tidak? Bagaimana jika orang yang kita harapkan menghibur kita atau menguatkan kita jutru menjadi orang yang pertama menasihati kita menyangkali integritas kita. Saudara-saudara sebagai orang percaya bukan hal yang mudah bagi kita mempertahankan integritas di tengah-tengah dunia ini. Ketika di pekerjaan, kita diperhadapkan pada resiko-resiko kehilangan pekerjaan jika kita tetap dalam kebenaran? Atau bagi para pelajar juga tidak terlepas dari tantangan integritas. Apakah saudara mau tetap jujur dalam ujian-ujian saudara meski resikonya saudara tidak lulus? Celakanya lagi terkadang guru kita sendiri yang menyarankan kita untuk nyontek atau tidak jujur dalam ujian? Saudara-saudara, godaan untuk menyimpang dari kebenaran akan teruji jika kita mulai menderita? Saudara tidak heran dewasa ini begitu banyak kejahatan yang terjadi di masyarakat dengan dalih kesulitan hidup yang mereka alami sehingga mereka mengambil jalan pintas. Saudara firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tetap berintegritas meski menderita atau tidak didukung oleh orang terdekat.
Saudara-saudara, apakah rahasia Yusuf dan Ayub dapat memiliki hidup yang berintegritas? Apa sumber kekuatan mereka? Mengapa mereka dapat mempertahankan integritas mereka di tengah-tengah tantangan mereka yang sungguh tidak mudah? Rahasianya terdapat dalam Mazmur 119:9. Mari kita baca bersama-sama: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”
(P) Saudara-saudara, kata “orang muda” dalam bagian ini menunjuk pada “murid” atau juga dikenal dengan sebutan “anakku” dalam kitab Amsal. Kata ini menunjuk pada seseorang yang perlu belajar dari sang guru hikmat. Saudara-saudara, dalam pertanyaan di atas terkandung keinginan dari yang kuat dari pemazmur untuk terlepas dari kecenderungan hati yang jahat, keinginan untuk selamat dari pencobaan, kemauan untuk hidup dalam kemurnian dan kebenaran, keinginan untuk hidup berintegritas. Ada penafsir yang mengatakan bahwa jawaban ini adalah jawaban yang merangkum hikmat kuno dan modern, merangkum semua ajaran moralitas dan agama. Suatu jawaban yang tepat dan komprehensif. Firman Tuhan adalah penuntun dalam kebenaran. Hati nurani dapat menunjukkan kesalahan tetapi tidak dapat menunjukkan jalan yang benar. Firman Allah yang menyucikan kita, menunjukkan dosa, membuat kita mencari kesucian. Firman Tuhan membuat Yusuf mengerti bahwa ia tidak boleh melakukan dosa di hadapan Allah (coba saudara bandingkan dengan Kejadian 39:9). Hikmat dari firman Tuhan ini yang membuat Ayub tidak berdosa dengan bibirnya,  sebaliknya tetap berdiam dalam integritasnya. Saudara juga masih ingat kisah pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun, berulang kali Yesus menyebutkan ayat-ayat firman Tuhan untuk melawan godaan Iblis. Firman Tuhanlah yang membuat Yusuf, Ayub dan Tuhan Yesus tetap memiliki kehidupan yang berintegritas.
(A) saudara-saudara, Kehidupan yang berintegritas tidak terlepas dari firman Tuhan. Jika saudara mencari seorang yang memiliki integritas carilah orang yang memiliki relasi dengan firman Tuhan. Carilah orang yang memiliki waktu untuk bergumul dengan firman Tuhan. Jika saudara mencari pasangan hidup yang berintegritas carilah seorang yang mencintai firman Tuhan. Atau jika saudara ingin memiliki hidup yang berintegritas, milikilah firman Tuhan. Kita dapat bertahan melewati ujian integritas dari hari ke hari, ketika tidak ada seorang pun yang melihat, bahkan ketika kita mengalami penderitaan, ketika tidak di dukung bahkan oleh orang-orang terdekat hanya jika kita hidup sesuai dengan firman Tuhan.

Penutup
Saudara yang kekasih, Yusuf disertai Tuhan selalu, semua usahanya diberkati Tuhan karena integritasnya, Ayub akhirnya dapat melihat arti penderitaan yang ia alami. Bahkan ia berkata ia akhirnya dapat melihat Tuhan dengan matanya sendiri juga kerena integritasnya. Allah menyertai orang yang memiliki hidup yang berintegritas. Akan tetapi mengulang pernyataan Bruce Weinstein seorang etikawan terkenal berkata bukan karena keuntungan-keuntungan yang ada maka kita hidup berintegritas melainkan karena memang itu adalah hal benar yang harus dilakukan.