Kesetiaan kepada Tuhan (Daniel 3:1-18)

            Bagian Alkitab ini menceritakan tentang kesetiaan tiga anak Tuhan (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) pada masa dominasi Babilonia. Kisah ketiga orang ini mengajarkan kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan merupakan harga mati bagi seorang yang menyembah Tuhan. Demi kesetiaan kepada Tuhan, mereka berjuang melewati kerikil-kerikil penghambat. Mereka berani tampil beda di tengah-tengah komunitas penyembah berhala. Demi kesetiaan kepada kebenaran Allah mereka berani membayar berapapun harganya, bahkan siap menyongsong maut sekalipun. Bagaimanakah ujian bagi kesetiaan mereka?



I. Ujian sebagai kaum minoritas di tengah-tengah kaum mayoritas.
            Ujian kesetiaan tiga pelayan ini pertama-tama adalah keberadaan mereka – sebagai kaum minoritas – di tengah-tengah mayoritas penyembah berhala. Penekanan faktor kuantitas (mayoritas) memang sangat jelas dalam perikop ini. Ayat 2-7 menggambarkan kaum mayoritas yang menyembah patung emas raja Nebukadnezar: “para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah ... orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa.” Sedangkan pada ayat 12 dituliskan bahwa orang yang tidak mau menyembah patung itu hanya beberapa orang Yahudi.
            Bayangkan mereka tidak mau tunduk menyembah patung itu, sementara semua orang menyembah berhala itu. Lebih menegangkan lagi ketika mereka diperhadapkan kepada raja Nebukadnezar. Raja ini yang memberikan mereka jabatan tinggi di Babel. Dan mereka harus menetang orang yang memberikan mereka jabatan tersebut. Mereka berdiri di hadapan semua orang dengan sorot mata tajam yang menantikan tindakan mereka. Semua orang di sekitar mereka serentak menyembah patung itu dan berharap tiga orang juga ikut menyembah, namun kenyataannya berbeda. Mereka memilih menyembah Tuhan dan tidak ikut menyembah berhala.
            Tidak jarang anak-anak Tuhan akhirnya meninggalkan kesetiaan mereka kepada Allah karena tekanan mayoritas sekitar mereka ataupun tekanan dari otoritas di atas mereka. Kita diingatkan untuk tetap setia kendatipun mayoritas orang di sekitar kita ataupun atasan kita menghendaki kita meninggalkan jalan kesetiaan kepada Allah.

II. Ujian Penderitaan.
            Ujian kesetiaan yang kedua bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah penderitaan. Penderitaan berupa perapian yang menyala-nyala menanti Sadrakh, Mesakh dan Abednego karena mereka menolak menyembah patung emas raja Nebukadnezar (ay. 6,11,15). Perapian yang menyala-nyala ini seperti kubur yang ternganga menyambut diri mereka.
Apakah kesetiaan mereka hangus oleh ancaman maut dari perapian yang menyala-nyala itu? Alkitab mencatat justru ketika ancaman datang, komitmen kesetiaan mereka dikumandangkan (ay. 16-18). Kesetiaan mereka kepada Allah tidak akan tergoyahkan oleh maut sekalipun. Kesetiaan yang kokoh dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego tergambar jelas dari dua kalimat komitmen mereka, “Kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” 
            Penderitaan memang adalah tantangan terberat dari sebuah kesetiaan. Seorang anak Tuhan dapat saja setia tatkala tiada penderitaan, namun ketika diperhadapkan pada penderitaan, kesetiaannya pupus. Seorang anak Tuhan dipanggil untuk siap menderita demi kesetiaannya kepada Allah. Kita diingatkan oleh kisah ini untuk siap dan rela menderita bilamana itu diperlukan demi tetap di jalan kesetiaan. Amin.
           
download powerpoint disini