Panggilan Hidup (Yeremia 1:4-16)

            Segala sesuatu yang dibuat pasti memiliki tujuan pembuatan. Misalnya sebuah pena dibuat untuk keperluan menulis. Memang pena bisa saja dipakai sebagai selipan pembatas halaman buku yang dibaca, namun sesungguhnya bukan itu tujuan pembuatan sebuah pena. Satu yang pasti pena tidak tepat digunakan sebagai alat pancing. Ada yang membagi kategori penggunaan sesuatu berdasarkan tujuan kegunaannya: usefull, misuse, useless. Pena yang dipakai untuk keperluan menulis termasuk kategori usefull. Pena yang dipakai sebagai selipan pembatas buku termasuk kategori missuse. Sedangkan penggunaan pena sebagai alat pancing adalah useless.
            Untuk sebuah benda sederhana, seperti pena, dibuat dengan suatu tujuan tertentu, apalagi manusia yang diciptakan oleh Allah. Tentulah manusia dibuat untuk suatu tujuan tertentu. Seseorang yang memahami tujuan penciptaannya dan maksud Allah dalam hidupnya, ia adalah ciptaan yang usefull. Sebaliknya bisa termasuk misuse, ataupun useless. Kita rindu menjadi ciptaan yang usefull, karena itu penting bagi kita menggumulkan dengan serius tujuan penciptaan kita di dunia ini.
            Kitab Yeremia, khususnya 1:4-16, memberikan gambaran tentang bagaimana panggilan Allah itu dinyatakan, sekaligus menunjukkan bagaimana kita mengetahui panggilan Allah dalam hidup kita.

I.            Rencana Allah dalam kehidupan kita selalu dimulai dari Allah: merencanakan, memanggil, memperlengkapi dan mengutus.
            Jika kita memperhatikan bagian yang kita baca, Rencana Allah untuk kehidupan Yeremia dimulai dari Allah. Ayat 4 menyatakan, “Firman Tuhan datang kepadaku,” Kalimat ini menunjukkan dari mana rencana ini bermula. Allah menyatakan rencanaNya kepada Yeremia.
            Selanjutnya ayat 5 menunjukkan bahwa rencana ini telah ada jauh sebelum Yeremia lahir. Dari semula Allah telah merencanakan bagaimana Yeremia seharusnya menjalani kehidupannya kelak. Ia dirancang untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ini suatu rencana yang besar, suatu rencana yang agung, suatu rencana yang telah lama disiapkan.
            Bagaimana respon Yeremia atas rencana Allah ini? Yeremia berkata, “sesungguhnya aku tidak pandai bicara, sebab aku ini masih muda.” Diperkirakan usia Yeremia pada waktu itu kurang lebih 20 tahun. Dan jika kata-kata Yeremia ini dicermati dalam konteksnya, maka bisa berarti: Saya tidak belajar teologia di sekolah nabi, sehingga tidak punya kemampuan berbicara seperti nabi-nabi. Usia saya baru 20 tahun, orang didengar omongannya dalam budaya Yahudi hanya orang di atas 30 tahun. Saya bisa dilempari jika berbicara atas nama Tuhan. Bagaimana mungkin saya bisa melakukan rencana Allah yang besar itu?”
            Respon Yeremia ini bersifat manusiawi. Ketika kepada seseorang dinyatakan rencana Allah yang agung dan besar, yang telah ada sejak semula, maka seseorang segera melihat keterbatasan dirinya. Yeremia baru berumur 20 tahun sudah dipanggil menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ia masih kecil tetapi ditetapkan dalam rencana Tuhan untuk melayani bangsa-bangsa.
Rencana Allah untuk kita sudah ada sejak semula. Ini suatu rencana besar karena menyangkut Kerajaan Allah. Jika Tuhan menyatakan rencanaNya bagi kita, maka respon kita, bisa demikian: Tuhan saya ini sangat berdosa/bukan seorang rohaniwan, tidak mungkin layak untuk rencanaMu; Tuhan keluarga saya hancur, orangtua saya bisa marah, jika saya mengikuti rencana Tuhan; Tuhan, saya ini pemalu dan tidak bisa ngomong depan umum; Tuhan, saya ini terlalu muda atau saya terlanjur sudah tua: tidak mungkin cocok dengan rencana Tuhan; saya tidak punya bakat pemimpin. Dan berbagai alasan yang lain. Ini suatu respons yang manusiawi. Tetapi bagaimana Allah menyelesaikan kegelisahan manusiawi ini?
            Jawaban Allah kepada Yeremia tertulis di ayat 7-8, perhatikan kata-kata “jangan,”“tetapi” atau “sebab.”]. Jawaban ini mengajak Yeremia mengubah fokus pada kelemahan diri kepada fokus akan Allah dan kuasa-Nya. Allah seakan-akan berkata: “jangan kuatirkan kelemahan dan keterbatasanmu, tetapi fokus pada rencanaKu dan andalkan penyertaanKu.”
             Jawaban Allah ini kemudian diikuti dengan tindakan-Nya memperlengkapi dan mengutus Yeremia. Di ayat 9 dinyatakan bahwa Allah mengulurkan tangan dan menjamah mulut Yeremia. Allah memperlengkapi Yeremia dengan “menaruh perkataan-perkataan” artinya Yeremia diberikan kemampuan mengatakan firman Allah yang diterimanya kepada bangsa-bangsa. Di sini Allah memperlengkapi Yeremia. Allah memberikan hikmat kata-kata kepada Yeremia sehingga kendatipun ia muda, ia mampu berbicara dan diberi otoritas dari Allah.
            Selanjutnya di ayat 10 Allah mengutus Yeremia. [baca ayat 10, “mengangkat ... untuk”]. Ia dipanggil untuk mencabut, merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ia ditetapkan untuk menanamkan firman Tuhan dan membangun bangsa-bangsa dengan firman Tuhan.

Pelajaran bagi Kita
Dalam bagian pertama ini kita melihat bagaimana rencana Allah dalam kehidupan Yeremia, dimulai dari Allah sendiri. Allah yang merencanakan, Allah yang memanggil, Allah yang memperlengkapi dan Allah yang mengutusnya.
Erik Rees, penulis buku Finding and Fulfilling Your Unique Purpose for Life, menyatakan Allah tidak pernah menciptakan apapun tanpa maksud. Ia mendisain kita secara spesifik dalam menggenapi rencanaNya untuk menyatakan kerajaan Allah di dunia. Kunci untuk memahami rencana Allah dengan penciptaan kita adalah look to God. Kita seharusnya bertanya kepada Allah bagaimana kita harus menjalani hidup ini.
            Rencana Allah dalam hidup kita selalu dimulai dari Allah. Seorang yang tidak look to God tidak akan mungkin menemukan maksud keberadaannya di dunia ini. Dan seorang yang tidak menemukan maksud keberadaannya di dunia ini, kata Tom Paterson, adalah seorang yang tidak sungguh-sungguh hidup dan seorang mengecewakan hati Tuhan.
            Rencana Allah juga selalu diikuti oleh tindakanNya untuk memperlengkapi kita. Kita perlu look in us untuk menemukan perlengkapan yang Allah lakukan dalam diri kita. Rick Warren merumuskan bagaimana Allah memperlengkapi kita untuk melakukan rencanaNya melalui, “SHAPE.” Spiritual Gift, Heart, Abilities, Personality, Experiences [Karunia Rohani, Beban hati, Kemampuan/skill, Kepribadian/Temperamen, Pengalaman].
Allah punya rencana dalam hidup kita. Kita lebih berharga sebuah pena. Allah menetapkan kita dengan satu tujuan tertentu bagi kerajaanNya. Kita bisa saja hidup, kita bisa saja tertawa, bersenang-senang, melakukan ini itu, kuliah atau kerja. Tetapi yang jadi pertanyaan penting bagi kita sebagai orang Kristen adalah: apakah kehidupan kita berguna bagi kerajaan Allah?
Bagaimana mempunyai hidup yang berguna bagi kerajaan Allah? Dimulai dengan look to God. Seorang yang memahami rencana Allah atas hidupnya adalah seorang yang dekat pada Tuhan. Bukan hanya dekat, tetapi bertanya pada Tuhan akan tujuan penciptaannya. Selanjutnya look in us untuk menemukan perlengkapan-perlengkapan yang telah Allah kerjakan dalam diri kita. Dua poin menolong kita melihat tujuan khusus Allah untuk hidup kita, atau yang biasa disebut panggilan hidup kita.


             
II.            Rencana Allah dalam hidup kita diteguhkan oleh kebutuhan ladang pelayanan di sekitar kita.
            Rencana Allah dalam kehidupan kita bisa dianalogikan seperti sebuah puzzle. Ada suatu pola-pola unik yang selalu cocok dengan papan puzzle. Demikian juga dengan rencana Allah bagi kita, dan cocok dengan kebutuhan ladang pelayanan. Ada satu tempat kosong yang harus kita isi dalam “papan puzzle“. Ada suatu kebutuhan ladang pelayanan yang harus kita isi.
            Rencana Allah atas hidup Yeremia juga diteguhkan oleh kebutuhan ladang pelayanan pada masanya. Yeremia hidup pada tiga masa bangsa Yahudi. Masa ketaatan, masa Yosia; masa ketidaktaatan, masa Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia; dan masa penghukuman yakni masa pembuangan. Pada masa ketidaktaan, ia menyuarakan suara kebinasaan, keruntuhan jika Yehuda tidak berbalik; Pada masa penghukuman di pembuangan, ia menyuarakan adanya harapan dan bagaimana seharusnya sikap Yehuda di pembuangan. Inilah ruang kosong yang akan diisi oleh Yeremia. Inilah masa dimana Yehuda membutuhkan seorang nabi.
            Selanjutnya, Yeremia melihat dua penglihatan yaitu sebatang dahan pohon Badam dan periuk mendidih dari Utara. Dahan pohon Badam menunjukkan bahwa kehendak Tuhan segera akan dilaksanakan. “badam” dalam bahasa Ibrani berarti “mempercepat.” Yeremia harus segera mengambil bagian dalam rencana Tuhan. Ia harus segera menyuarakan supaya Yehuda bertobat. Periuk yang mendidih dari Utara menunjukkan bangsa Babilonia yang akan datang dari Utara untuk menyerang. Penglihatan ini menunjukkan ada ancaman yang datang bagi Yehuda yang tidak bertobat. Yeremia dipanggil menyatakan bahaya ini moga-moga Yehuda dapat insaf. Kedua penglihatan ini meneguhkan sisi urgensi dari panggilan Yeremia.
            Jika kita membaca kitab Yeremia, kita akan melihat bahwa Yeremia berperan penting dalam menenangkan Yehuda yang masuk ke dalam pembuangan. Yehuda bingung, gelisah, putus asa ketika diangkut ke pembuangan. Yeremia berperan untuk menenangkan Yehuda, menyadarkan bahwa pembuangan adalah akibat mereka tidak mengindahkan peringatan Tuhan. Yeremia juga mengingatkan Yehuda bahwa suatu saat Tuhan akan membawa mereka kembali dari pembuangan. Yeremia memberikan petunjuk bagaimana hidup di pembuangan. Salah satu ayat terkenal dalam kitab Yeremia, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer.29:7).  
Rencana Allah dalam hidup Yeremia diteguhkan kebutuhan Yehuda akan teguran dan tuntunan Firman Allah. Yeremia dipanggil untuk mengisi papan puzzle rencana Allah di Yehuda. Yeremia diciptakan untuk menjawab kebutuhan Yehuda.            
Millard Fuller menyatakan hidup adalah suatu pemberian dan suatu tanggung jawab. Tanggung jawab kita adalah menggunakan apa yang Allah anugerahkan kepada kita untuk menolong orang yang membutuhkan.

Pelajaran bagi Kita
Bagaimana mengetahui rencana unik Allah bagi kita? Cara untuk mengetahuinya sangat sederhana tetapi tidak mudah untuk dilakukan. Caranya: buka mata, buka telinga, buka hati untuk mengerti realita yang terjadi di sekitar kita (look around).  Kita tidak bisa memastikan rencana Allah dalam hidup kita jika kita terlalu tertutup, kurang peduli dengan realita yang terjadi di sekitar kita: di keluarga kita, di lingkungan kita, di kabupaten kita, di bangsa kita, di dunia ini. Jika kita membuka mata, telinga, hati lebar-lebar akan realita sekitar kita, maka kita akan diyakinkan akan rencana Allah dalam hidup kita.Kita akan dengan mudah melihat kemana Allah memimpin kita untuk menghidupi rencanaNya.