Pemimpin yang Berdedikasi (Markus 12:41-44)


Dedikasi dapat didefinisikan sebagai suatu persembahan atau sesuatu yang dilakukan untuk tujuan suci dan bersifat pengorbanan. Dengan demikian, dedikasi seorang pemimpin di hadapan Allah dapat dilihat dari apa yang ia persembahkan atau korbankan untuk Allahnya. Kisah janda miskin yang memberi persembahan ini, memberikan pencerahan dan teladan kepada pemimpin Kristen masa kini dalam menunjukkan dedikasinya.
Markus mengemukakan beberapa fakta mengenai kondisi janda ini. Markus dengan sengaja menuliskan kisah janda ini tepat setelah kisah ahli Taurat yang merampas rumah para janda (ay. 38-40). Markus sesungguhnya ingin menunjukkan bahwa janda yang memberi persembahan tersebut tidak lain adalah salah satu janda yang sebelumnya mengalami perlakuan tidak buruk (rumahnya dirampas) oleh para ahli Taurat. Selain itu, ia juga seorang janda yang sangat miskin.  Markus menggunakan kata ”ptōkhos” untuk menggambarkan kemiskinannya. Kata ini secara literal bermakna bahwa janda ini tidak mempunyai apa-apa dan sangat rentan dengan kelaparan. Ia orang miskin yang jika tidak ditolong akan menderita.
Sungguh mengejutkan apa yang dilakukan oleh janda ini: ia memberikan persembahan. Persembahan yang dikumpulkan di Bait Suci, dimaksudkan membiayai dua keperluan: keperluan Bait Suci dan untuk membantu para janda dan yatim piatu. Dalam kekurangannya, janda ini masih juga memikirkan untuk memberi persembahan bagi keperluan Bait Suci dan sesama orang miskin. Ia tetap memberi persembahan ketika mengalami ketidakadilan dan penindasan dari Ahli Taurat – pelayan Bait Allah. Ia memberi ketika miliknya diambil. Ia memberi apa yang masih ada padanya, bahkan semua yang masih ada padanya. Ia memberi persembahan itu ketika seharusnya ia yang menerima persembahan. Inilah sebuah dedikasi yang berkenan kepada Allah.
Dedikasi sang janda juga dinyatakan dalam pengorbanannya ketika memasukkan dua peser persembahannya. Markus sengaja menyebut mata uang “peser” dan “duit” untuk menunjukkan bahwa persembahan janda itu adalah persembahan paling kecil yang dapat dipersembahkan oleh orang pada waktu itu.  Peser adalah mata uang tembaga Yahudi yang paling kecil, sedangkan Duit adalah mata uang Yunani terkecil.
Mengapa Yesus memuji janda yang memberi persembahan terkecil ini?  Yesus memujinya karena janda ini memberikan persembahan yang kecil tetapi dengan pengorbanan yang besar.
Orang-orang kaya memberi jumlah uang yang lebih banyak tetapi tidak ada semangat pengorbanan di dalamnya. Mereka “memberi dari kelimpahannya,” artinya tidak ada yang dikorbankan bersama dengan persembahan mereka. Sedangkan janda ini “memberi dari kekurangannya.” Artinya ia memberi meski ia tahu tidak akan ada lagi yang tersisa padanya. Janda ini mengorbankan nafkah yang dapat ia nikmati hari itu untuk suatu persembahan. Ia korbankan nafkahnya demi pemeliharaan bait Allah dan demi menopang sesama orang yang berkekurangan lainnya. Inilah dedikasi sejati: hidup yang dikurbankan untuk pelayanan bagi Allah dan sesama. Suatu dedikasi yang terlihat jelas dalam pengorbanan.
Pemimpin yang berdedikasi adalah pemimpin yang tetap mengabdi kendati hidupnya dalam berbagai pergumulan. Dan pemimpin yang berdedikasi adalah pemimpin yang mengabdi dengan semangat pengorbanan.

Pertanyaan Refleksi:
1.      Bagaimana pergumulan seringkali menyurutkan dedikasi pemimpin?
2.   Masihkah semangat pengorbanan dimiliki oleh para pemimpin bangsa? Apakah pemimpin masa kini memilih mengorbankan diri demi dedikasinya atau memilih mengorbankan dedikasinya demi kepentingan diri?
3.   Apakah saya seorang yang berdedikasi, yang tetap mengabdi di tengah-tengah pergumulan dan mengabdi dengan semangat pengorbanan?

(dimuat dalam buku Acara KKRJB 2011 kolom saat teduh)