Pemimpin yang Taat (1 Samuel 15:1-23)


Pemimpin yang berkenan kepada Allah adalah pemimpin yang taat. Kualitas seorang pemimpin di mata Allah ditentukan bukan oleh keberhasilannya melakukan hal-hal besar, tetapi oleh ketaatannya melakukan hal-hal apa pun yang Allah kehendaki. Penolakan Allah atas kepemimpinan Saul bukan karena Saul tidak pernah mencapai hasil gemilang selama kepemimpinannya. Penolakan Allah atasnya semata-mata karena Saul tidak taat kepada perintah Allah.
            Perintah Allah kepada Saul dinyatakan dengan sangat jelas, ”Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai” (ay. 3). Sejelas perintah Allah kepadanya, sejelas itu pula Saul bersama rakyat melanggar perintah itu, ”tidak mau mereka menumpas semuanya itu” (ay. 9).          
Apakah motif ketidaktaatan Saul? Saul tidak taat kepada perintah Allah karena ia mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Pencarian akan kemuliaan diri tercermin dari tindakannya mengambil rampasan dari peperangan melawan Amalek (ay. 8-9). Pada masa itu, seorang raja yang menang perang akan dikagumi karena kualitas rampasan perang yang ia bawa. Saul yakin dengan membawa raja Agag dan ternak terbaik, ia akan dipuji dan disanjung oleh umat Israel dan bahkan oleh bangsa-bangsa sekitarnya.
Pencarian kemuliaan diri juga ditunjukkan oleh Saul dengan mendirikan baginya suatu tanda peringatan di Karmel (ay. 12: NIV, a monument in his own honor). Monumen peringatan ini jelas menonjolkan keberhasilan Saul dalam peperangan melawan Amaleh. Alih-alih memberikan kemuliaan bagi Allah dengan menaati perintah-Nya dan mendirikan monumen untuk memuliakan Allah, Saul mencari kemuliaan diri dengan melanggar titah Allah dan mendirikan monumen untuk kemuliaannya sendiri.
            Selain itu, ketidaktaatan Saul pada perintah Allah juga dilatari oleh karena ia lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah (ay. 24). Mengapa ternak orang Amalek tidak dimusnahkan semuanya? Karena Saul takut kepada rakyat yang menghendaki ternak tersebut dibawa sebagai rampasan untuk dipersembahkan kepada Allah. Saul lebih memilih untuk taat kepada kehendak manusia, ketimbang kehendak Allah. Ia lebih memilih memenuhi tuntutan manusia daripada tuntutan Allah.
            Saul lupa bahwa TUHAN-lah yang telah mengangkatnya menjadi raja atas Israel. Saul gagal menyadari bahwa tampuk kepemimpinannya ada di tangan Allah dan bukan di tangan rakyat. Karena itu, ia korbankan ketaatan demi jabatan.
            Sikap Allah terhadap ketidaktaatan Saul dinyatakan dengan gamblang di sini. Allah menyesali kepemimpinan Saul (ay. 11). Allah menolak kepemimpinan Saul (ay. 23,26). Dan pada akhirnya Allah mengoyakkan jabatan raja dari Saul (ay. 28). Kepemimpinan Saul dicabut Allah karena ketidaktaatannya.
            Ketaatan adalah satu-satunya syarat seorang pemimpin berkenan kepada Allah. Bahkan ketaatan adalah satu-satunya keinginan Allah dari manusia. Umat manusia dimurkai Allah karena ketidaktaatan Adam, sebaliknya umat Allah dibenarkan karena ketaatan Kristus. Para pemimpin Kristen masa kini dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus di dalam ketaatan.  
             

Pertanyaan refleksi:
1.      Bagaimanakah pencarian kemuliaan diri telah menggerogoti ketaatan dari para pemimpin bangsa ini kepada Tuhan?
2.      Mengapa para pemimpin cenderung lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah?
3.      Apakah kehendak atau perintah Allah yang masih saya abaikan sampai hari ini? Mungkinkah pencarian kemuliaan diri ataupun ketakutan kepada manusia membuat saya tidak menaati kehendak Allah itu?

(dimuat dalam buku Acara KKRJB 2011 kolom saat teduh)