Sebuah Dialog Tukang Becak dengan Rasul Paulus (Responsum: Seputar Penggunaan Bahasa Roh)

Alkisah, seorang tukang becak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mengalami petualangan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Meski petualangan ini memuaskan rasa ingin tahunya, namun petualangan ini tidak membawanya kembali ke tempat asalnya. Ia terus berpetualang dan berpetualang lagi. Andai saja ia membaca surat yang ditawarkan padanya, tentu ia terhindar dari petualangan tanpa henti itu.

Awal Petualangan
Tukang becak istirahat menunggu penumpang

Petualangannya diawali ketika suatu siang ia mengantarkan dua orang ibu Kristen, yang biasa menumpangi becaknya, sehabis bergereja. Kedua ibu tersebut merupakan sahabatan sejak kecil. Persahabatan yang erat ini disokong oleh berbagai kesamaan di antara mereka berdua. Tinggal di kompleks perumahan yang sama, sekolah yang sama, dari TK sampai PT, jumlah suami dan anak-anak yang sama. Satu saja perbedaan, mereka berbakti di gereja yang berbeda. Tak jelas bagi tukang becak ini apa perbedaan kedua gereja ini, yang ia tahu, gereja yang satu berulang kali riuh oleh tepuk tangan, sedang yang lain adem ayamdengan lagu-lagu hymnalnya.

Setelah cukup lama mengayuh, si tukang becak merasakan aura pembicaraan yang berbeda dari biasanya antara kedua penumpangnya. Jikalau minggu-minggu sebelumnya mereka berbicara dengan hangat mengenai refleksi dari ibadah yang baru saja mereka ikuti, maka siang itu pembicaraan bernada keras, ngotot, dan penuh dengan bantahan.

 Rupanya pembicaraan siang itu bermuara pada hancurnya persahabatan kedua ibu itu. Kedua ibu tersebut turun dari becak dengan penuh kemarahan satu dengan yang lain. Tidak ada lagi waktu-waktu bersama, tidak ada lagi obrolan hangat di atas becak, dan tentu saja, bagi tukang becak ini, tidak ada lagi lima belas rupiah setiap minggunya. Dan itulah terakhir kalinya si tukang becak melihat kedua ibu itu bersama-sama.

Kenyataan ini sangat mengusik rasa ingin tahu si tukang becak. Mengapa percakapan siang itu memanas dan menghancurkan relasi persahabatan kedua ibu itu, dan bahkan, tentu saja pada akhirnya, mengurangi pendapatan rutinnya? Ketika ia mencoba mengingat-ingat pembicaraan mereka, ia ingat satu frasa yang mereka ulangi, yaitu “bahasa roh”. Apa itu bahasa roh? Mengapa bahasa roh membuat orang-orang Kristen itu bertikai dan berselisih tajam? Dan sekali lagi, tentu saja, mengapa bahasa roh mengurangi pendapatan si tukang becak?


Perjalanan melalui Mesin Waktu

            Karena dikendalikan oleh rasa ingin tahu yang semakin menggila, akhirnya si tukang becak memutuskan untuk mencari petunjuk ilahi demi memperoleh jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Dan ia yakin bahwa Tuhan orang Kristenlah yang bertanggung jawab memuaskan keingintahuannya itu.

            Pada malam itu juga, berdoalah tukang becak ini kepada Tuhan orang Kristen dan memohonkan petunjuk. Tuhan memberinya dua pilihan: membaca sebuah surat berisi jawaban pertanyaannya atau berpetualang langsung mencari jawaban itu. Ia pun memilih pilihan kedua yang baginya lebih menantang.

Mesin waktu dalam film "The Machine Time,"
Warner Bros & Dreamworks
            
Karena tukang becak ini memilih pilihan kedua, maka Tuhan memaparkan kepadanya apa yang harus dilakukannya. Ia diminta untuk pergi ke Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP IPTEK) yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. Di PP IPTEK sedang diadakan pameran sebuah mesin waktu ciptaan Dr. Alexander Hartdegen pada 1903. Ia harus menggunakan mesin waktu itu untuk mencari seorang bernama rasul Paulus di tahun 55 masehi.

             Keesokan harinya, ia bangun dan menuju PP IPTEK, tempat seperti yang dinyatakan Tuhan kepadanya. Setibanya di sana, ia menuju ruang tempat pameran mesin waktu. Ketika ia melihat tak ada lagi orang di sekitar mesin itu, ia bergegas menuju mesin itu. Ia duduk dan mulai mengatur tahun ke 3 Juni tahun 55 masehi. Ia lalu mendorong tuas pengaktif mesin itu, dan wuss... Atas penentuan Tuhan, sampailah tukang becak itu di sebuah kota bernama Efesus pada 3 Juni 55.

Dialog dengan Rasul Paulus

            Dalam suasana dan tempat yang asing, tukang becak itu memutuskan untuk turun dari mesin waktu itu. Baru saja ia menginjakkan kakinya di tanah Efesus, ia menyadari bahwa tidak jauh dari tempatnya, telah berkumpul banyak orang sambil mendengar seorang berpidato kepada mereka semua. Ia mendekati kerumunan orang itu dan ikut mendengar sang orator. Setelah cukup lama mendengar, ia akhirnya tahu bahwa orang yang berbicara itu adalah rasul Paulus, orang yang harus dicarinya sesuai petunjuk Tuhan.
Paulus berhotbah

             Setelah sang rasul usai berpidato dan kerumunan massa mulai mencair, tukang becak ini mendekati rasul Paulus dan menyapanya. Rasul Paulus sedikit terkaget-kaget melihat pakaian dari orang yang datang dan menyapanya itu. Memang pakaian tukang becak ini sangat berbeda dengan pakaian rasul Paulus. Jika Paulus memakai jubah panjang sampai ke kaki, maka tukang becak itu memakai jeans usang dan kaos oblong bersablon Slank.

            Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini, tukang becak ini segera menghujani rasul Paulus dengan pertanyaan-pertanyaan. Berikut dialog mereka,
TB       : bapak Paulus, apakah anda tahu informasi mengenai bahasa roh?
RP       : tentu saja, saya bahkan baru saja mengirim sebuah surat kepada jemaat di Korintus, yang isinya di antaranya mengenai bahasa roh.


TB       : Apa sebenarnya bahasa roh itu, pak?
RP       : bahasa roh adalah salah satu dari sekian banyak karunia yang Allah berikan untuk kepentingan bersama. Karunia-karunia ini Allah berikan bukan untuk kepentingan pribadi tetapi kepentingan jemaat (1Kor 12:7; 14:12, 26).

TB       : Apakah Allah memberikan kepada tiap orang karunia yang sama, misalnya: semuanya diberi karunia berbahasa roh?
RP       : Tentu saja tidak. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya (1Kor 12:10-11).

TB       : Saya masih kurang jelas pak.
RP       : Saya beri ilustrasi tubuh manusia. Meskipun tubuh manusia satu, tetapi anggota-anggotanya ada banyak, bukan. Tidak mungkin tubuh manusia terdiri dari mata, atau telinga saja. Jadi Allah memberikan karunia yang berbeda-beda kepada tiap-tiap anggota jemaat tetapi harus digunakan untuk kepentingan bersama (1Kor 12:12-30).

TB       : Pak, apakah memiliki karunia itu adalah hal yang utama dalam hidup kita?
RP       : Memiliki karunia itu baik dan kamu harus berusaha memiliki karunia-karunia yang paling utama. Tetapi lebih utama dari semua itu adalah kasih. Meski kamu punya karunia, tetapi tidak memiliki kasih maka kamu tidak ada gunanya (1Kor 12:31-13:3)

TB       : Jadi dasar dari karunia adalah kasih ya pak. Oiya pak Paulus, jika saya telah memiliki kasih, karunia apa yang terutama harus saya usahakan peroleh?
RP       : Bernubuat. Bernubuat artinya menyampaikan firman Allah kepada orang lain. Inilah karunia yang harus kamu utamakan untuk peroleh (1Kor. 14:1).

TB       : Jika dibandingkan dengan karunia berbahasa roh, apakah karunia bernubuat masih lebih utama?
RP       : iya, dengan catatan bahasa roh itu tidak ditafsirkan kepada jemaat. Tetapi jika bahasa roh ditafsirkan maka karunia ini sama utamanya dengan bernubuat. Bahasa roh yang tidak ditafsirkan tidak membangun jemaat, dan menyalahi tujuan Allah memberikan karunia itu (1Kor 14:5). Bahasa roh yang tidak ditafsirkan adalah sia-sia jika diperdengarkan (1Kor 14:9). Bahasa roh yang tidak ditafsirkanmembuat jemaat terpecah-pecah dan terasing satu dengan yang lain (1Kor 14:11). Seorang yang berdoa dengan bahasa roh yang tidak ditafsirkan tidak utuh berdoa, karena akalnya tidak turut berdoa (1Kor 14:14-15).

TB       : apakah anda bisa berbahasa roh?
RP       : saya juga bisa berbahasa roh, tetapi saya lebih suka berbicara 5 kata yang dimengerti dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh (1Kor 14:18-19).

TB       : bagaimana jika ada orang tetap berbahasa roh tanpa tafsiran dalam pertemuan ibadah?
RP       : sadarilah bahwa mereka itu belum dewasa pemikirannya dan belum memahami kebenaran ini (1Kor 14:20). Mereka tidak mengetahui bahwa seorang yang telah beriman atau percaya tidaklah memerlukan karunia berbahasa roh, melainkan karunia bernubuat (1Kor 14:22). Mereka ini tidak menyadari bahwa mereka akan disangka orang gila oleh orang baru atau orang yang belum percaya yang ada di situ (1Kor 14:23).

TB       : Apa saran anda bagi mereka yang sering berbahasa roh namun tidak menerjemahkannya?
RP       : hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan ibadah. Mereka harus mengendalikan karunia mereka, seperti para nabi mengendalikan karunia kenabian mereka, demi tercapainya damai sejahtera (1Kor 14:29-33). Jangan melarang orang berbahasa roh, tetapi minta mereka menyampaikannya dengan sopan dan teratur (1Kor 14:40).

TB       : Terima kasih pak Paulus. Diskusi ini sangat menolong saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya perihal bahasa roh ini.
RP       : Terima Kasih juga. Saya sangat menghargai keseriusan anda mencari kebenaran. Kebenaran Allah merupakan petunjuk bagi kita untuk menggunakan karunia Allah dengan benar. Semoga orang-orang Korintus yang membaca surat saya, mau menaati saran dan nasihat saya supaya jemaat dapat bertumbuh dengan baik.

TB       : sampai jumpa pak.
RP       : Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu.


Petualangan tanpa henti 

Dengan hati yang puas sang tukang becak berjalan meninggalkan rasul Paulus dan kembali ke tempat mesin waktunya. Dalam hatinya ia puas dengan dialognya dengan sang rasul. Ia bersiap kembali ke zamannya untuk mendamaikan dua ibu Kristen yang berselisih mengenai bahasa roh. Ia sangat yakin bahwa kedua ibu itu akan senang mendengar penjelasannya nanti, dan mereka akan berdamai satu dengan yang lain, lalu kembali bergereja bersama. Dan tentu saja, pendapatan rutinnya dapat ia peroleh kembali.

Alangkah terkejutnya ia ketika sampai di mesin waktunya. Ia melihat banyak anak-anak kecil mengelilingi mesin itu, bahkan beberapa di antara mereka naik ke atasnya. Ia kemudian berteriak dan mengusir anak-anak itu. Ia teringat anak-anak sekolah minggu gereja yang sering kali melakukan hal yang sama terhadap becaknya yang kerap ia parkir di depan gereja. Dan tidak jarang ada onderdil becaknya yang rusak.

Ia mendekati mesin waktu itu dan berharap tidak ada yang rusak. Namun sayang, nampaknya harapannya tidak terjawab. Ia menemukan beberapa baut yang terlepas dari mesin itu, tetapi ia tidak tahu bagian mana dari mesin waktu yang terlepas.  Ia segera duduk dan mengatur waktu ke 3 Juni 2010, lalu sekali lagi mendorong tuas pengaktif dan wuss ...

Ia tidak kembali ke tempat semula. Tempatnya kini bukan PP IPTEK lagi, bahkan bukan Taman Mini Indonesia Indah. Ia menyadari bahwa baut-baut yang terlepas tadi telah mengacaukan pengatur waktu mesin itu, sehingga ia tidak berada di tahun 2010. Dalam kebingungan dan kegelisahan hatinya, ia turun dari mesin itu dan mencoba mengenali tempat di mana ia berada.

Ia berada di sebuah taman yang indah, pepohonan yang rindang dan bunga yang bermekaran. Udara taman itu sejuk dan segar. Beberapa binatang berjalan kian kemari bermain satu dengan yang lain. Kemudian ia melangkah lebih jauh, dan melihat ada berbagai jenis binatang seperti antri menuju ke suatu arah. Ia mengikuti arah antrian itu dan menemukan di depan antrian itu terduduk seorang pria tanpa busana. Setelah cukup lama mengamati pria dan binatang-binatang yang antri ini, tukang becak ini memutuskan untuk menyapa pria itu.

TB       : Maaf, boleh saya tahu siapa nama anda, apa yang anda lakukan dan tahun berapa ini?
A         : Nama saya Adam dan saya sedang menamai binatang-binatang ini. Apa itu “tahun”?
TB       : Ya Tuhan ... (si tukang becak pun pingsan. Setelah sadar, ia kembali mencoba mesin waktu itu untuk kembali  ke 2010 tetapi tidak pernah berhasil. Ia selalu berada di tempat yang asing ...)


Epilog 

Kedua ibu Kristen yang sebelumnya bertikai perihal bahasa roh, masing-masing terdorong untuk mencari tahu sendiri informasi mengenai bahasa roh dari Alkitab. Mereka lalu sampai pada kitab 1 Korintus 12-14. Mereka membacanya dan memperoleh pemahaman yang utuh mengenai bahasa roh. Singkat cerita, pemahaman yang utuh tersebut membawa mereka berdamai satu dengan yang lain. Lalu mereka memutuskan untuk kembali bergereja bersama seperti biasa. Tetapi ketika mereka mencari becak yang biasa mereka tumpangi, mereka tidak menemukannya...