Kasih Setia TUHAN melampaui kefanaan Manusia (Mazmur 103:15-18)


Peristiwa kematian adalah peristiwa yang senantiasa mengingatkan kita akan kefanaan manusia. Ketika melihat seorang telah meninggal, kita menyadari bahwa kehidupan manusia di dunia ini ada akhirnya.

Ketika seseorang masih hidup, ia bisa melakukan banyak hal dalam kehidupannya. Ia bisa pergi ke berbagai tempat, ia bisa membeli banyak benda, ia bisa membuat apa saja yang mampu dibuat oleh tangannya, ia bisa berjumpa dan bercengkrama dengan banyak orang yang ditemuinya. TETAPI bilamana kematian itu datang, semuanya itu berhenti di sana. Ia tak bisa lagi pergi ke berbagai tempat, tak bisa lagi membeli banyak benda, tak bisa lagi berbuat apa-apa, dan tak bisa lagi menemui atau ditemui oleh orang-orang yang ia kasihi.

Inilah dampak dari kematian. Inilah kefanaan manusia yang ditunjukkan oleh kematian. Kematian menyatakan bahwa hidup manusia di dunia ini ada batasnya.

Pemazmur menggambarkan kehidupan manusia yang fana itu, seperti rumput. Ketika pagi ia bertumbuh dan berkembang, tetapi ketika petang menjadi lisut dan layu. Penggambaran ini bukan hanya menunjukkan bahwa hidup manusia itu singkat tetapi juga menyatakan bahwa manusia akan mengalami masa “lisut” atau “keriput”; akan mengalami masa “layu” atau “renta.”

Kakek saya meninggal di usia 60 tahun. Ia tampak keriput dan renta di usia tuanya. Saya sekarang sudah mencapai usia setengah dari usia kakek saya. Tinggal setengah lagi. Hidup ini singkat dan akan menjadi “lisut dan layu seperti rumput.” Itulah kefanaan manusia.

Kehidupan manusia juga digambarkan seperti bunga di padang yang segera hilang ketika angin datang melewatinya. Keindahan bunga itu hilang ketika angin melintasinya. Demikian juga kehidupan manusia, ketika kematian datang, segala keberhasilan dan kegemilangan yang pernah dicapai BUKAN LAGI MENJADI BAGIAN DARI ORANG ITU, tetapi hanya menjadi KENANGAN. Ini juga kefanaan manusia.

Waktu kita menyadari bahwa ketika seorang meninggal, segala keberhasilan dan kegemilangan hidup tak dapat lagi menopang dia, kita mungkin akan bertanya, “lalu apa yang dapat menopang dia?” Waktu kita sadari bahwa keluarga, sahabat tak mungkin menemani melewati gerbang kematian, lalu siapa yang akan menemaninya?

Bagian selanjutnya dari mazmur yang tadi kita baca menyatakan bahwa orang-orang yang takut akan Tuhan, yang berpegang pada perjanjian Tuhan dan ingat melakukan titah-Nya akan ditopang oleh kasih setia selama-lamanya. Tuhan sendiri yang menyertai orang-orang yang takut akan Tuhan, baik  sebelum dan sesudah orang itu mati.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak takut akan Tuhan; Orang-orang yang tidak percaya yang mengalami kematian? Alkitab menggambarkan jiwa mereka jauh dari Tuhan dan berkat-berkat-Nya. Jiwa mereka kering. Mereka sengsara dalam cengkraman maut. Mereka terkungkung dalam dunia orang mati dengan penderitaan dan kesengsaraan.

Tetapi orang-orang yang takut akan Tuhan, mengalami kebaikan Tuhan. Orang-orang yang percaya kepada Allah, ketika meninggal mereka bersama-sama dengan Tuhan. Mereka mengalami kesenangan, sukacita karena mereka menyadari bahwa Allah menopang mereka dalam kematian.

Dalam Filipi 1:21-24 Paulus menyatakan “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.”

Paulus menyatakan, “mati adalah keuntungan,” “pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu jauh lebih baik.” Di bagian lain ia menyatakan, “terlebih suka kami beralih dari tubuh ini.” Di mata Paulus kematian itu lebih baik dari pada kehidupan. Dalam kehidupan kita menderita, kita sakit, kita bertemu dengan orang-orang jahat. Tetapi ketika seorang percaya meninggal, ia mengalami kesenangan bersama-sama dengan Tuhan.

Apakah ini berarti “kehidupan tidak punya makna?” TIDAK. Paulus menyatakan, “seorang yang hidup lebih berguna dari pada orang mati. Orang yang hidup bisa melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Orang yang hidup bisa menghasilkan buah, tetapi orang mati tidak.”

Jadi bagi orang-orang percaya, kematian lebih baik daripada hidup, tetapi kehidupan lebih berguna daripada kematian. Jika kita mengalami kematian itu lebih baik daripada kita tetap hidup, tetapi jikalau Tuhan masih ijinkan kita hidup, itu berarti kita harus lebih berguna orang lain dan menghasilkan buah dalam kehidupan kita.

Dalam kacamata firman Tuhan ini kita melihat bahwa kematian adalah hal yang lebih baik bagi oma yang kita kasih. Ia telah menetap bersama-sama dengan Tuhan. Ia ditopang oleh kasih setia Tuhan. Ia mengalami kesenangan sebagai seorang yang mengasihi dan takut akan Tuhan.

Sedangkan bagi kita yang masih hidup, Tuhan ingin kita lebih berguna bagi orang lain. Allah ingin kita menghasilkan buah dalam kehidupan kita. Kehidupan di dunia ini terbatas dan akan lisut dan layu. Dan dalam masa hidup yang terbatas ini, mari kita terus berusaha melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Mari kita terus menghasilkan buah. Mari kita terus berpegang pada perjanjian Tuhan. Mari kita terus ingat melakukan titah-Nya. Amin.