Mencintai Taurat Tuhan (2Tim. 3:10-17)


Pendahuluan
            Dalam kisah pewayangan Mahabaratha dikenal lakon bernama Dewi Retno Savitri. Meskipun kisahnya singkat dalam rangkaian panjang kisah Mahabaratha, namun cukup menggambarkan kualitas sebuah cinta.
            Dewi Retno Savitri adalah anak seorang raja bernama Prabu Aswapati di negeri Madra. Savitri menikah dengan Bambang Setiawan, putra dari seorang Brahmanaraja yang bernama Jumatsena yang tinggal di hutan pertapaan. Karena cintanya, Savitri memutuskan menikah meski ia tahu bahwa hidup Setiawan hanya tinggal setahun lagi.
            Savitri meninggalkan kehidupan istana dan tinggal di sekitar hutan pertapaan bersama suami yang dicintainya. Ia selalu menyenangkan suaminya dengan perkataan manis, pelayanan serta kesetiaannya yang luar biasa. Meski Ia bahagia bersama Setiawan, Savitri menyimpan kegundahan karena ajal suaminya yang setiap hari semakin mendekat dan hal itu membuat tubuhnya secara fisik menjadi susut.
            Singkat cerita pada hari kematian sang suami, datanglah Dewa Maut Yamadipati, bertampang bengis, mengambil nyawa suaminya. Savitri sudah mengucapkan janji bahwa Ia akan pergi kemana suaminya pergi. Karena itu ia mengikuti dewa maut yang membawa nyawa suaminya pergi.
            Waktu demi waktu berlalu, tempat demi tempat dilalui. Savitri terus mengikuti dewa maut itu dengan kelelahan dan kesulitan, tetapi ia tetap berjalan karena cintanya kepada suaminya. Selama perjalanan, beberapa kali tercipta pembicaraan antara dewa Maut dan Savitri. Dalam pembicaraan-pembicaraan itu jelaslah bagi dewa maut bahwa Savitri sangat mencintai suaminya dan berkomitmen setia kepadanya. Hal ini ia dapati berbeda dengan isterinya yang berselingkuh dengan pria lain dan meninggalkannya
            Karena itu, Yamadipati sang Dewa maut berkenan mengembalikan nyawa Setiawan kepada Savitri. Mereka juga diberi hidup 100 tahun dan dikarunia 100 orang anak.
            Itulah kisah singkat Dewi Retno Savitri yang karena cintanya ia rela melewati berbagai penderitaan dan akhirnya mendapatkan hal-hal yang baik sebagai buah dari cintanya itu.

            Hari ini kita belajar juga tentang cinta, tetapi bukan cinta kepada pria/wanita, melainkan cinta kepada firman Tuhan. Senada dengan kisah Savitri, cinta itu teruji melalui penderitaan, namun menghasilkan buah manis dalam kehidupan. Kita akan belajar bahwa Cinta akan firman teruji oleh penderitaan namun cinta akan firman itu juga mengubah hidup kearah yang baik. Itulah Paradoks Cinta.


Cinta akan Firman dapat Membawa Kita kepada Penderitaan
             Bagaimanakah penderitaan menguji cinta akan firman?

Dalam bagian yang kita baca, Ketika menjelaskan tentang poin-poin yang diikuti oleh Timotius, Paulus menekankan secara khusus akan penderitaan dan kesengsaraan. Di ayat 10, Paulus menyebut dengan cepat ada tujuh poin yang telah diikuti oleh Timotius. Dalam satu ayat ada tujuh poin. Tetapi ketika menyebut tentang poin penderitaan yang esensinya sama dengan kesengsaraan, sepertinya Paulus nampak berlama-lama. Ia bahkan menambahkan kalimat di ayat 12, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Hal ini menunjukkan Paulus benar-benar menekankan tentang penderitaan di bagian ini. Bahkan kalau mencoba melihat dengan lebih luas lagi. Kita bisa mendapati bahwa salah satu tema yang di-highlight dalam surat 2 Timotius adalah ttg penderitaan diantaranya 1:12;2:3,9;3:11-12;4:6.
            Mengapa Paulus dan juga Timotius menderita? Karena kecintaan mereka terhadap firman. Kecintaan itu mereka tunjukkan dengan menghidupi firman Tuhan dan mereka memberitakan firman itu di tengah-tengah dunia yang anti firman kebenaran.
Paulus menyatakan bahwa Timotius telah mengikuti ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih dan ketekunan Paulus  (ayat 10). Bukan hanya itu, tetapi juga penderitaan dan kesengsaraan Paulus (ay. 11). Kata “mengikuti“ di situ sering digambarkan dalam metafora seorang yang menapaki jejak kaki orang yang berjalan di depannya. Apa yang Paulus ajarkan? tentu saja ajaran firman. Bagaimanakah cara hidup Paulus? Cara hidup yang seturut firman. Pendirian seperti apa yang dimiliki Paulus? Pendirian yang berdasarkan firman. Dan seterusnya. Seluruh hidup Paulus  berpusat pada firman.
Bukan hanya menghidupi firman, tetapi juga memberitakan firman. Di pasal 1:11-12 dinyatakan bahwa Paulus ditetapkan sebagai pemberita dan ia menderita karena itu. Di pasal 2:2-3, Timotius yang diundang untuk terlibat dalam pemberitaan Injil juga ditantang untuk siap menderita. Seorang yang berkomitmen pada pemberitaan firman akan menderita. Pelayanan Pemberita firman tidak dimaksudkan hanya dalam fase penginjilan tetapi juga segenap pelayanan yang berkaitan dengan upaya menyampaikan berita kebenaran.
Upaya menghidupi firman dan memberitakannya dilakukan ditengah-tengah zaman yang anti kebenaran, dilakukan dilakukan di lingkungan orang-orang yang menolak kebenaran. Pasal 3:1-9 menunjukkan bahwa zaman itu bahkan hingga kini adalah zaman yang sukar yang menentang kebenaran. Produk zaman anti kebenaran inilah yang menganiaya orang-orang yang cinta firman Tuhan.
Karena tidak tahan penderitaan banyak orang yang beranjak dari kecintaannya terhadap firman. Ayat 13 menyatakan bahwa Mereka hidup dalam kesesatan dan menyesatkan orang lain. Mereka menjadi jahat dan bertambah jahat. Salah satunya Demas (4:10) yang lebih mencintai dunia dan tidak lagi mencintai firman.
Karena itulah di ayat 14, Paulus mengatakan kepada Timotius untuk berpegang pada firman kebenaran itu yang telah ia terima dan yakini. Kata yang dipakai untuk “tetap berpegang” adalah “mene” yang juga diterjemahkan “tetap tinggal, jangan beranjak.” Paulus meminta Timotius untuk tinggal jangan beranjak dari kebenaran.

Aplikasi
Apakah saudara saat ini menderita karena saudara berjuang melakukan firman dan terlibat dalam pemberitaan firman? sementara saudara hidup di lingkungan yang mungkin tidak peduli dengan firman? Mungkin kita hidup dan dibesarkan ditengah keluarga yang fokusnya bukan firman tetapi, uang, kesuksesan, jabatan sehingga ketika kita berjuang untuk menekuni jalan kebenaran kita ditekan, diremehkan, dianggap tidak berarti?
            Atau mungkin kita berada pada posisi mengambil ancang-ancang melangkah keluar dari jalan hidup yang mencintai firman, karena enggan menderita?
            Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tinggal dalam kebenaran sebagai wujud kecintaan kita akan firman itu, kendatipun harus menderita

            Itulah sisi haru dari kesungguhan cinta kepada firman, yaitu kehidupan yang menderita. Namun ada sisa tawa dari kesungguhan mencintai firman, yaitu kehidupan yang lebih baik.         

Cinta akan Firman Menghasilkan Kebaikan bagi Hidup Kita

Bagaimanakah kehidupan yang baik yang tercipta dari kecintaan kepada firman?

Paulus menyatakan bahwa pengenalan akan firman telah menuntun Timotius kepada keselamatan dalam Kristus (ay. 15). Bukan hanya berhenti pada beroleh keselamatan, tetapi juga firman itu telah merupakan ajaran kebenaran, menunjukkan kesalahan-kesalahan, mengubah kelakuan dan mendidiknya dalam kebenaran (ay. 16). Karya keselamatan dan hidup yang berubah memperlengkapi Timotius untuk melakukan pebuatan yang baik yang Allah kehendaki (ay. 17). Perbuatan baik di sini bukan dalam arti sempit, melakukan sesuatu yang baik, tetapi perbuatan baik di sini sejajar dengan pekerjaan baik yang dinyatakan dalam Efesus 2:10.  Perbuatan baik atau pekerjaan baik dilihat sebagai Panggilan yang Allah dalam hidup Timotius.
Apa kebaikan yang dilahir dari kecintaan Timotius kepada firman? Ia beroleh keselamatan, Ia mengalami perubahan hidup dan Ia mampu menggenapi rencana Allah dalam hidupnya.
            Mzm 1:1-3, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
           
Aplikasi
            Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, seorang yang mencintai firman akan beroleh buah baik dari firman itu. Apakah buah baik itu? Keselamatan dalam Kristus Yesus, bukan hanya selamat, tetapi juga mengalami perubahan hidup: pikiran, prasaan, karakter, perilaku, dan akhirnya menggenapi rencana Allah dalam hidupnya.
            Apakah transformasi hidup saudara alami? Atau kehidupanmu masih berkutat pada problem dosa yang sama, perilaku dan pikiran negatif yang sama? AKarnya pada kecintaan kita pada firman.
            Apakah saudara mengerti tujuan khusus apa yang Allah rencanakan untuk hidupmu? Jika jika belum juga mengerti mungkin berakar pada kurangnya cinta kita kepada firman…
            Hasil baik hanya dinikmati oleh orang yang sungguh mencintai firman..

download powerpoint disini