PELAYANAN YANG DIPIMPIN ALLAH (Kis. 18:1-17)


KITA DIPANGGIL UNTUK MENGARAHKAN HIDUP PADA PELAYANAN.

                Seorang Kristen yang mengarahkan hidup pada pelayanan bukan berarti ia harus meninggalkan profesinya dan menjadi seorang penginjil atau pendeta. Bukan. Mengarahkan hidup pada pelayanan bukan juga berarti harus mengambil kepengurusan di gereja: entah sebagai majelis, panitia, pengurus bidang atau guru sekolah minggu. Tidak.
                Seorang Kristen yang mengarahkan hidupnya pada pelayanan adalah seorang Kristen yang apa pun profesinya, apa pun perannya: ia kerjakan itu untuk tujuan melayani.

Kebenaran Ini bisa kita pelajari dari kehidupan Paulus dalam Kis 18:
Ketika tiba di Korintus Paulus berjumpa dengan Akwila dan Priskila. Mereka sama-sama pembuat tenda. Mereka bekerja bersama membuat Tenda (ay. 1-3). Dan setiap hari sabat Paulus berdiskusi dengan orang-orang Yahudi dan Yunani (ay 4).
       Seringkali bagian ini kurang lengkap dinyatakan mengenai hidup pelayanan Paulus. Seringkali yang ditekankan ketika berbicara tentang pelayanan adalah ayat 4. Dan ketika berbicara tentang pekerjaan ayat 3.
       Sesungguhnya bagi Paulus pekerjaan pembuat tenda adalah pelayanan. Diskusi pada hari sabat adalah pelayanan.  Mengapa pekerjaan pembuat tenda oleh Paulus merupakan bagian dari pelayanan Paulus? Itu terjawab dari alasan mengapa ia bekerja membuat tenda?
-          Dalam Kis 20:34-35
       Paulus bekerja untuk memenuhi keperluannya dan keperluan rekan-rekan seperjalanannya dan bahwa dipakai untuk membantu orang-orang yang lemah/berkekurangan.
-          Dalam 2Kor. 11:9 dan Juga 1 Tes. 2:9,
Dinyatakan bahwa Paulus bekerja supaya ia tidak menyusahkan jemaat dengan beban kebutuhan hidupnya
               
Jelas sekali tujuan Paulus bekerja sebagai pembuat tenda adalah tujuan melayani.
Paulus menyadari dengan sungguh bahwa tujuan hidupnya adalah untuk melayani. Meski bekerja, Paulus bukan seorang yang workaholic yang tidak tahu kapan harus berhenti bekerja dan melakukan hal lain. Pekerjaan dalam perspektif Paulus bukanlah kesempatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya bagi diri, tetapi alat untuk menopang pelayanan. Hal ini terbukti ketika Titus dan Timotius datang dari Makedonia membawa bantuan yang cukup, Paulus memakai waktunya lebih banyak untuk melayani pemberitaan Injil (ay. 5).

Arah hidup Paulus adalah melayani. Seluruh hidupnya dan apapun yang ia lakukan, semuanya untuk melayani Tuhan dan sesamanya.

Rick Warren menulis “para pelayan lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri mereka sendiri. Allah selalu lebih tertarik pada mengapa kita mengerjakan sesuatu ketimbang apa yang kita kerjakan”

Aplikasi
Apakah hidup kita masih terarah pada pelayanan? Berapa banyak uang, waktu dan tenaga kita untuk melayani Tuhan dan orang lain? Apa peran kita sekarang? Apakah tujuan melayani menjadi motivasi kita melayani?
                Perkembangan dunia dan kemajuan yang ada menuntut orang bekerja, bekerja dan bekerja. Bekerja adalah hal yang baik, tetapi kalau itu tidak diikuti dengan semangat pelayanan, hasilnya adalah kejahatan.
Sebagai pekerja, Apakah kita dikenal sebagai rekan kerja yang melayani dan suka menolong? Seorang Kristen yang memiliki hati melayani bukan hanya terlihat melayani di gereja, tetapi juga ditempat ia bekerja. Pekerjaan yang ia lakukan untuk kemajuan bersama, dengan cara yang benar.
Selain itu, TUntutan pekerjaan sering memaksa orang menjadi egois, mengabaikan tanggung jawab hidup yang lain. Mengabaikan pelayanan di gereja.  Sulit sekali mencari pelayan di gereja karena alasan pekerjaan, pelayanan dibatalkan karena alasan pekerjaan. Mengabaikan pelayanan dalam keluarga. Keluarga dianggap penghalang pekerjaan. Kurang waktu bersama keluarga. Tidak ada pelayanan rohani dalam keluarga. Semuanya karena pekerjaan.
                Apakah hasil pekerjaan berguna pelayanan? Mungkin tidak. Firman TUhan mengingatkan kita untuk memberi kepada orang yang kekurangan. Sering Yang ada adalah menghabiskan uang untuk kesenangan pribadi. Mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang, membeli sebanyak-banyaknya barang. Sementara ada saudara seiman yang kekurangan
                Mari kita bergumul kembali mengarahkan hidup kita untuk melayani.
               
PELAYANAN YANG DIKERJAKAN SEHARUSNYA ADALAH PELAYANAN YANG DIPIMPIN TUHAN.

                Pelayanan itu begitu luas, tidak mungkin bagi kita untuk mengerjakan semua pelayanan yang ada. Ada banyak tempat pelayanan, bentuk pelayanan, peran pelayanan. Pertanyaan bagi kita yang sekarang melayani adalah apakah pelayanan yang saudara kerjakan adalah pelayanan yang Allah pimpin atau karena sekadar melayani mengikuti kebiasaan yang ada sehingga mengabaikan pimpinan Tuhan untuk pelayanan lain.
Paulus mempunyai pola dalam pelayanan pemberitaan Injil. Ketika memasuki suatu kota. Ia mencari rumah ibadat orang Yahudi dan memberitakan Injil di situ. Jika ia ditolak barulah ia memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain di kota itu. Tidak lama berselang biasanya timbul huru hara karena orang Yahudi yang mulai menghasut dan menganiaya barulah Paulus beralih ke kota lain. Itu POLA PELAYANAN PAULUS. Itu pola yang biasanya terjadi. Pola itu nampak di ayat 4-8.
                Hal yang berbeda nampak di ayat 9-11. Ada firman melalui penglihatan yang menuntun Paulus mengambil jalur pelayanan di luar pola yang biasa ia lakukan. Ia diminta tinggal lebih lama di Korintus karena banyak orang yang masih perlu dilayani olehnya di situ.
                Tuhan meminta Paulus untuk tidak takut, terus memberitakan firman dan jangan diam. Nampaknya mulai muncul ketakutan dalam diri Paulus bahwa peristiwa penolakan yang berujung  penganiayaan seperti di daerah Makedonia terulang di Korintus. Ketakutan Paulus ini wajar sebagai seorang manusia. 
                Lukas mencatat “Tuhan” berfirman dalam suatu penglihatan. Tuhan yang dimaksud di sini adalah Yesus sendiri yang hadir dalam penglihatan itu dan penafsir mengaitkan itu dengan perjumpaan Paulus dengan Yesus di jalan ke Damsyik. Kehadiran pribadi Kristus mengingatkan Paulus bahwa Yesus sendiri mengalami penganiayaan karena itu ia dipanggil untuk menderita bersama Kristus.
                Meski kehadiran Yesus dalam penglihatan menguatkan hati Paulus untuk tidak takut menghadapi penganiayaan, Yesus berjanji untuk melindunginya dari penganiaya sehingga tidak ada yang dapat menjamah dia (ay.10)
                Dan Paulus taat kepada pimpinan Tuhan untuk menetap lebih lama di Korintus. Janji Tuhan tergenapi dalam masa pelayanan Paulus di Korintus. Orang Yahudi berusaha mengadili Paulus melalui Gurbernur Galio, tetapi tidak berhasil. (ay. 12 dst.)

Kita dipanggil menaati pimpinan Tuhan dlm Pelayanan. Menaati pimpinan Tuhan juga dilakukan Petrus ketika ia memutuskan untuk melayani orang-orang non Yahudi setelah TUhan berbicara melalui penglihatan kepadanya sebelum ia melayani Kornelius. Meski demikian tidak semua pelayan bersedia taat pada pimpinan TUhan, contohnya Yunus. Ia malah menolak pimpinan TUhan dalam pelayanannya dan melarikan diri.

Siapa yang memimpin pelayanan kita? APa yang mengarahkan pelayanan kita?

Rick Warren menyatakan bahwa ada orang yang dipimpin oleh ketakutannya. Takut mengambil resiko pelayanan karena itu ia memilih pelayanan tertentu dan menghindari pelayanan yang Allah ingin kerjakan.
Ada juga orang yang digerakkan oleh materialisme. Menghindari pelayanan karena membutuhkan pengorbanan materi yang besar. Menolak pelayanan yang minim materi. Menolak panggilan Tuhan karena alasan materialisme.
Ada lagi orang yang digerakkan oleh pengakuan. Ia melayani di tempat ia akan mendapat pengakuan. Ia menghindari pelayanan yang minim pengakuan. Ia marah jika pelayanannya tidak dihargai.

Aplikasi
Bagian firman ini mengajak kita untuk menggumuli pelayanan apa sebenarnya yang Tuhan ingin kita kerjakan.  Bukan sekadar melayani.. tetapi pelayanan yang benar Tuhan kehendaki..

Bagaimana kita mengetahui pelayanan yang Tuhan pimpin?
Tuhan berbicara melalui firmanNya. Orang yang ingin melayani menurut pimpinan TUhan adalah orang yang dekat dengan firmanNya.  Butuh kepekaan mengetahui pelayanan yang Allah kehendaki dan itu nyata bagi orang yang akrab dengan Allah.
                Seringkali ketakutan, materialisme dan pengakuan yang memimpin pelayanan kita. Sehingga yang terjadi bukan pelayanan tetapi pelarian dari pelayanan yang sesungguhnya Allah ingin.