SPIRITUALITAS MUSA: AKRAB DENGAN TUHAN (Kel. 34:1-12 )


Spiritualitas Musa terangkum dalam satu gelar yang disandangnya. Musa adalah salah satu tokoh PL yang menyandang gelar “hamba TUHAN,” (ay. 5; Baca Bil.12:6-8). Gelar hamba TUHAN merupakan gelar besar dalam PL yang dilekatkan pada seseorang yang hidupnya dekat dengan Tuhan, beribadat dan melakukan kehendak-Nya.
Menjadi seorang hamba TUHAN bukan berarti menjadi seorang yang sempurna dan tanpa cacat. Pada ayat 1-4 dinyatakan bahwa Allah memperlihatkan Tanah Perjanjian kepada Musa, tetapi tidak diizinkan memasukinya. Mengapa ia tidak diizinkan masuk? Bukan karena ia tidak sanggup lagi berjalan sebab ia masih kuat (ay.7). Ia tidak diizinkan memasuki Tanah Perjanjian sebagai bentuk disiplin TUHAN karena ia pernah menunjukkan ketidaktaatan dan ketidakhormatan kepada TUHAN ketika berada di Meriba (Ul. 32:51; bdk. Bil. 20:12).
Jika kita melihat secara menyeluruh kehidupan Musa tampak noda ketidaksempurnaan. Di awal pengutusannya, ia berdebat dengan TUHAN. Ia enggan menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Sikapnya ini membuat Allah menjadi murka (Kel. 3:10-4:14). Ia juga pernah putus asa dan menjadi kecil hati, bahkan meminta TUHAN membunuhnya saja (Bil. 11:11-15). Musa adalah seorang yang sulit mengendalikan kemarahan, tampak ketika ia membunuh mandor Mesir yang membunuh orang Ibrani (Kel. 2:11-12) dan ketika ia menghancurkan kedua loh batu saat melihat umat menyembah berhala (Kel. 32:19). Menjadi hamba Tuhan, bukan berarti menjadi sempurna tanpa kesalahan.
Menjadi seorang hamba TUHAN berarti selalu akrab dengan-Nya. Keakraban Musa dengan TUHAN tidak lagi dapat dipertanyakan. Ia bahkan dikenal sebagai satu-satunya nabi yang kepadanya TUHAN berfirman dengan berhadapan muka (ay. 10), seperti seorang berbicara kepada temannya (Kel. 33:11).  Musa dalam dua peristiwa dicatat menghabiskan waktu 40 hari 40 malam bersama TUHAN di gunung Sinai (Kel. 24:18 dan 34:28). Musa sering mendoakan bangsanya, memohon supaya TUHAN tidak menghukum mereka (Kel. 32:11; Bil 14:19)
            Persekutuan akrab dengan TUHAN inilah yang membangun spiritualitas Musa sebagai hamba TUHAN. Persekutuan yang akrab dengan TUHAN inilah sumber kekuatan dan hikmat bagi Musa dalam memimpin Israel. Persekutuannya yang akrab dengan TUHAN inilah yang membuatnya mampu melakukan perbuatan besar dan dahsyat di tengah-tengah umat yang dipimpinnya (ay. 11-12).