MEMILIH UNTUK BERDAMPAK (1Sam. 17:16-39)


Kemerosotan bangsa ini tidak dapat dipisahkan dari minimnya kepekaan dan keberanian orang Kristen untuk ambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Di tengah banyaknya persoalan bangsa entah itu di bidang pendidikan, ekonomi, birokrasi, atau pun hukum, banyak orang Kristen lebih tertarik untuk memikirkan kepentingan sendiri sembari menyebarkan semangat pesimistik menghadapi persoalan bangsa yang ada.
Kisah Daud menginspirasi dan mengingatkan kembali orang Kristen untuk tidak egois dan pesimis, sebaliknya dengan kesadaran siap berkorban dan optimis, memilih untuk ambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Perikop yang kita baca mengemukakan salah pergumulan besar Israel pada saat itu adalah peperangan melawan bangsa sekitar, secara khusus Filistin. Dari narasi yang tertulis dinyatakan bahwa pasukan bangsa Israel sedang berhadapan dengan pasukan bangsa Filistin. Dari bangsa Filistin tampil seorang pendekar, yang biasa bertarung, bernama Goliat. Goliat menantang Israel untuk duel. Setelah 40 hari (17:16), tidak ada seorang pun dari bangsa Israel yang berani melawan Goliat. Mereka dilanda ketakutan dan kecemasan (17:11,24).
Ketika Daud hadir di perkemahan orang Israel untuk menanyakan kabar saudara-saudaranya yang ikut berperang, ia mendengar Goliat yang menantang Israel. Daud mengusulkan dirinya untuk diijinkan melawan Goliat (17:32). Ia menyadari bahwa tidak ada satu pun prajurit yang berani melawan Goliat. Ia tahu bahwa tawar hati/pesimistis melanda prajurit Israel. Sikap Daud ini bukan sikap gegabah tanpa pertimbangan. Keberanian Daud didasarkan atas keyakinan akan kuasa Allah yang memberkati Israel dan dirinya. Daud menyadari bahwa Allah mengasihi bangsanya dan bahwa Israel adalah barisan Allah. Karena itu ia yakin bahwa Allah akan menyertai dan menolongnya melawan Goliat (17:34-36).
Pada kisah selanjutnya, kita melihat bahwa Daud akhirnya maju dan mengalahkan Goliat. Ia menjadi agen Allah untuk menyelesaikan persoalan bangsanya di tengah-tengah menjalarnya semangat individualis (yang mencari keamanan diri) dan pesimistik bangsanya menghadapi Goliat dan Filistin.
            Orang percaya ditantang untuk memilih bersikap egois dan pesimis atau sebaliknya memilih untuk berdampak dan menjadi agen Allah membawa perubahan dan solusi bagi persoalan bangsa dalam berbagai bidang. Allah menyertai dan menolong umat-Nya yang memutuskan untuk mengambil sebuah peran dalam menyelamatkan bangsanya. Ada kuasa Allah menyertai orang-orang yang berani menjadi agen perubahan bangsanya yang terpuruk. Apa pilihan saudara?

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka,
karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat. 9:36)

Pertanyaan Rekfleksi:
1.      Apakah pergumulan bangsa yang menggugah saudara untuk ambil bagian menyelesaikannya?

2.      Kendala apa yang menyulitkan, ketika saudara memilih untuk berdampak dan menjadi agen Allah menyelesaikan persoalan bangsa?