KEMERDEKAAN KRISTEN (Galatia 5:1-15)

Pendahuluan
            Salam sejahtera bagi kita sekalian. Pertama-tama saya ucapkan selamat memperingati hari kemerdekaan yang ke-69 Tahun. Suasana peringatan kemerdekaan saat ini sangat jauh berbeda dengan 2 atau 3 tahun pertama pasca proklamasi.
            Kalau dewasa ini penekanan peringatan hari kemerdekaan adalah bagaimana mengisi kemerdekaan dengan baik melalui dengan pembangunan fisik dan mental bangsa. Pada tahun-tahun awal peringatan kemerdekaan, penekanannya pada bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan.
http://v-images2.antarafoto.com/g-co/1281583511/
proklamasi-kemerdekaan-ri-11.jpg
Jika kita kembali melihat sejarah bangsa kita, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia. Pada bulan Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer Pertama dan pada bulan Desember 1948 terjadi Agresi Militer kedua.
            Pada peringatan HUT Kemerdekaan yang ketiga, tepatnya 17 Agustus 1948. Presiden Soekarno berpidato di Yogyakarta. Dalam satu bagian pidato itu, beliau mengatakan “Kalau kemerdekaan kita dilanggar, kita melawan mati-matian, dan kita pertahankan kemerdekaan kita itu segala sekali lagi: segala: -djalan dan usaha jang boleh kita lakukan dan jang dapan kita lakukan: gerilja, bumi hangus, sabotage, boikot, pemogokan, ja, apa lagi itulah memang haknja sesuatu bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan kalau diserang!”
            Pidato bung Karno membakar semangat perjuangan para pahlawan. Semangat perjuangan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak ingin dijajah lagi. Para pahlawan menyadari arti perbudakan dan penjajahan, karena itu mereka mati-matian berjuang mempertahankan kemerdekaan itu. Pada masa inilah semboyan, “sekali merdeka tetap merdeka” sangat masif disuarakan.
            Sebenarnya kita sebagai orang Kristen mempunyai satu kemerdekaan lagi yaitu kemerdekaan Kristiani. Kalau kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia membawa kita kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka kemerdekaan Kristiani membawa kita menjadi bagian dari pewaris Kerajaan Allah.
            Kalau kemerdekaan kita sebagai bangsa Indonesia menuntut kita untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan baik, demikian pula dengan Kemerdekaan Kristiani. Kemerdekaan Kristiani menuntut kita untuk mempertahankan dan mengisinya dengan kebaikan.
Kebenaran inilah yang kita pelajari dari Galatia 5:1-15.

Apakah yang merongrong kemerdekaan kita sebagai orang Kristen, sehingga kita harus mempertahankannya?

Gal. 5:1 menyatakan, “supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Ayat ini menyatakan bahwa kita sudah merdeka. Tetapi merdeka dari apa? Paulus menggambarkan kemerdekaan kita lebih jelas pada Roma 8:1-2, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Ayat ini menyatakan bahwa Kristus telah memerdekakan kita dari penghukuman karena dosa kita. Kita tidak akan dikuasai oleh maut lagi tetapi beroleh hidup. Dan Yohanes 3:16 menyatakan bahwa, barang siapa yang percaya kepada Yesus tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. dalam surat Galatia, khususnya pasal 4-5, memiliki Hidup yang kekal sama dengan mewarisi Kerajaan Allah.
            Jadi, orang Kristen telah merdeka dari penghukuman karena dosa, dan karena itu orang Kristen tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal sebagai pewaris Kerajaan Allah.
            Ada pihak yang berusaha merongrong kemerdekaan itu. Dalam Galatia 2:4, Paulus menuliskan, “memang ada desakan dari saudara-saudara palsu [jadi bukan saudara yang asli] yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam [ke dalam persekutuan] untuk menghadang kebebasan [atau kemerdekaan] kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita.”
            Saudara palsu ini menyatakan bahwa orang Kristen belum merdeka. Iman kepada Kristus tidak cukup untuk memerdekakan tetapi juga harus taat kepada taurat Tuhan. Saudara Palsu ini mengajarkan bahwa untuk merdeka atau untuk bebas dari hukuman atau untuk selamat, syaratnya: iman plus taat pada taurat - Sekali lagi - Saudara Palsu ini mengajarkan bahwa untuk merdeka atau untuk bebas dari hukuman atau untuk selamat, syaratnya: iman plus taat pada taurat.
            Galatia 5:2-12 menggambarkan salah satu perintah taurat yang mendapatkan penekanan oleh saudara palsu ini adalah perintah sunat. Saudara Palsu menyatakan bahwa melakukan sunat adalah syarat untuk beroleh kemerdekaan.
            Ajaran saudara palsu ini membuat suasana kemerdekaan yang dimiliki orang Kristen menjadi terusik. Timbul kegelisahan dalam jemaat: Jemaat merasa belum merdeka dan kembali berada dibawah bayang-bayang penghukuman Allah. Jemaat merasa belum pasti selamat, belum pasti beroleh hidup yang kekal, belum pasti menghuni Kerajaan Allah.
            Paulus menyadari rongrongan ini, karena itu ia menulis surat Galatia. Paulus mengingatkan bahwa pengajaran saudara palsu ini bertentangan dengan firman Tuhan. Galatia 2:16 menggariskan dengan jelas, “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.” Efesus 2:8-9, “sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Refleksi
Apakah sebagai orang Kristen kita merasakan kemerdekaan atau masih dalam ketakutan bayang-bayang maut? Seorang yang berada dibawah perhambaan maut belum mengalami kemerdekaan Kristiani.
            Seorang yang masih berada dibawah perhambaan maut berusaha mencari pembenaran melalui berbagai macam cara. Ada yang mencari pembenaran melalui sakramen: Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus. Mereka mengikuti sakramen ini dengan harapan dimerdekakan oleh ritual sakramen itu. Merasa dosa baru dihapuskan ketika makan roti dan minum anggur perjamuan. Karena itu tidak jarang ada orang yang hanya datang gereja ketika ada perjamuan. Ini pemahaman yang keliru. Seorang Kristen dengan pemahaman ini masih hidup dibawah perhambaan dosa dan maut.
            Ada juga yang mengusahakan kemerdekaannya dengan aktif melayani, pikirnya: pelayanan yang banyak membuat dosanya yang banyak diampuni dan akhirnya diselamatkan. Orang yang mempunyai pemahaman seperti ini tidak jarang berusaha menerima pelayanan sebanyak mungkin. Ini pemahaman yang keliru juga. Seorang Kristen yang mempunyai pemahaman demikian masih dalam dalam bayang-bayang maut.
            Ada juga pemahaman yang menyatakan untuk selamat harus beriman dan berbuat baik. Iman kepada Kristus tidak cukup menyelamatkan sehingga harus ditambahkan dengan perbuatan baik. Orang yang mempunyai pemahaman demikian berusaha sebisa mungkin berbuat baik dengan motivasi supaya Allah memperhitungkan itu dan menyelamatkannya dari penghukuman.
            Sekali lagi kita diingatkan bahwa Kemerdekaan hanya diperoleh melalui iman kepada Kristus. Dengan hanya percaya bahwa Kristus telah mati menebus dosa kita CUKUP untuk memerdekakan kita. Iman dan hanya iman kepada KRistus itulah yang menyelamatkan.
            Galatia 2:16; Efesus 2:8-9; Yoh. 3:16; Titus 3:5. Jelas menegaskan bahwa kemerdekaan atau keselamatan kita terima hanya karena percaya/iman kepada Kristus dan bukan karena berbuat baik, ikut pelayanan, rajin ke gereja, ikuti sakramen. HANYA Karena IMAN Kepada Kristus.


Ada orang yang bertanya, “kalau kita diselamatkan hanya oleh iman, untuk apa kita berbuat baik? Atau mengapa kita diperintahkan berbuat baik?”      

Pertanyaan ini menghantar kita pada rongrongan yang kedua bagi kemerdekaan Kristiani, yaitu rongrongan libertinitas. Kalau rongrongan yang pertama tadi disebut rongrongan legalitas karena menuntut ketaatan pada taurat, yang kedua rongrongan libertinitas. Kalau kita ingin pakai istilah agresi: agresi pertama adalah agresi legalitas, yang kedua agresi libertinitas.

Dalam Jemaat di Galatia juga menyebar paham yang kurang lebih mengajarkan bahwa karena kita sudah selamat, ya kita bebas berbuat apa saja. Perbuatan tersebut lebih cenderung pada perbuatan dosa daripada perbuatan yang benar.
Karena itu Paulus mengingatkan juga bahaya libertinitas di ayat 13-15. Di ayat 13 dinyatakan, “saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain dalam kasih.”
Sebenarnya peringatan tentang bahaya libertinitas masih berlanjut dua perikop selanjutnya. Gal. 5:16-26 menunjukkan bahwa orang Merdeka dipanggil hidup menurut Roh, bukan menuruti keinginan daging. Gal. 6:9-10 menyimpulkan, “janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah. 10 karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
Dalam Galatia 5:21, Paulus mengingatkan jemaat bahwa penganut paham libertinitas tidak mendapat tempat dalam Kerajaan Allah. Seorang yang merdeka hidupnya dipenuhi Roh, sehingga menghasilkan buah Roh dalam kehidupannya.
Surat Yakobus kepada Jemaat di perantauan juga menyinggung tentang adanya paham libertinitas dalam jemaat. Yak. 2:14, “apa gunanya, saudara-saudara, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Kemudian di ayat 17 dikatakan, “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Jika kita keseluruhan perikop ini kita mendapat gambaran bahwa perbuatan adalah bukti dari iman. Perbuatan adalah bukti yang kelihatan dari iman yang tidak kelihatan.
·         Agresi Legalitas mengajarkan rumusan: IMAN + PERBUATAN BAIK = SELAMAT atau IMAN + KETAATAN = SELAMAT
·         Agresi Libertinitas mengajarkan rumusan IMAN = SELAMAT selesai. KETAATAN tidak punya kaitan apa-apa.
·         Tetapi Alkitab mengajarkan IMAN = SELAMAT + KETAATAN.
Hanya Iman kepada Yesus Kristus yang menyelamatkan, tetapi Iman yang sejati berbuah ketaatan kepada Allah.

Refleksi
Apakah Iman kita sejalan dengan ketaatan Kita? Kemerdekaan atau Keselamatan yang kita miliki harus diisi dengan ketaatan dan kebaikan. Ketaatan adalah bukti yang kelihatan dari iman yang tidak kelihatan. Apakah hidup kita taat atau tidak? Jika hidup kita dipenuhi dengan ketidaktaatan, maka sesungguhnya iman kita adalah iman yang mati.
            Kalau kita mencermati persoalan bangsa saat ini salah satu yang memberikan kontribusi dalam kemerosotan bangsa adalah orang Kristen yang mengabaikan ketaatan kepada Tuhan.
            Salah satu dari sekian pergumulan bangsa adalah kedisiplinan, loyalitas dan tanggung jawab PNS. Sangat sedih jika melihat bahwa orang Kristen yang PNS juga tidak punya disiplin, loyalitas dan tanggung jawab. Iman kita sejalan dengan kedisiplinan kita, sejalan dengan loyalitas kita, sejalan dengan tanggung jawab kita. Orang Kristen yang berprofesi sebagai PNS seharusnya disiplin, loyal dan bertanggung jawab.
            Selain itu, persoalan bangsa lainnya adalah merajalelanya korupsi. Banyak dari kasus korupsi yang terjadi bermuara pada pengusaha/kontraktor. Kontraktor atau pengusaha Kristen, imannya harus tertuang dalam integritasnya. Kejujuran dalam penyusunan anggaran proyek, bukan hanya itu hak dari para karyawan harus diberikan.
            Satu lagi bagian yang nampaknya kecil tapi pengaruh yang sangat besar, yaitu Gereja. Apakah bapak, ibu, saudara yakin bahwa gereja kita ini dan para pengurus yang ada, pada pelayanan, para petugas, para panitia yang ada di dalamnya disiplin, loyal dan bertanggung jawab mengerjakan mandat pelayanan dari Tuhan?    Apa ada keyakinan tidak ada korupsi di gereja kita? Kalau Gereja saja gembala jemaat tidak memberikan jaminan ketaatan dalam pelayanan, bagaimana kita bisa menjamin domba-dombanya akan taat?
Saya percaya Iman yang ada di dalam diri kita saat ini bergejolak ketika ketaatan sudah disuarakan. Saya percaya kita yang mempunyai iman yang hidup akan berjuang memperbaiki diri, gereja kita, lingkungan pekerjaan kita. Kiranya Kristus menolong kita mewujudkan ketaatan itu karena kita adalah orang-orang yang sudah merdeka. Amin.