Persahabatan Inklusif dengan Tuhan - Yohanes 15: 12-14


Dua orang yang bersahabat memiliki relasi yang eksklusif satu dengan yang lain, ada perbedaan relasi diantara mereka dengan relasi dengan orang lain. Mereka saling mengasihi, saling menjada, saling peduli dan tidak saling mengkhianati.

Dalam bagian Alkitab yang kita baca, dinyatakan tentang persahabatan dengan Yesus, yang jikalau kita teliti membacanya, akan terlihat bahwa persahabatan dengan Yesus bukanlah relasi yang eksklusif..

Persahabatan dengan Yesus beda dengan persahabatan umumnya.

Perhatikan ayat 12-14, disana dinyatakan “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Apa perintah itu? Ayat 12: Perintah itu adalah mengasihi sesama seperti Yesus mengasihi mereka. Bagaimana Yesus mengasihi mereka? Ayat 13: Dengan mengorbankan nyawa

Jika bagian ayat-ayat ini kita rangkai dengan kalimat bebas untuk menjelaskan tentang seseorang yang Yesus anggap sebagai sahabat, maka kira kira kalimatnya menjadi demikian:
-          Sahabat Yesus adalah murid yang mengasihi murid yang lain, bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk mewujudkan kasih itu. Bukannya: Sahabat Yesus adalah murid yang mengasihi Yesus dan rela berkorban untuk Yesus.
-          Persahabatan dengan Yesus dibentuk dari kasih yang berkorban bagi sesama. Bukannya: persahabatan dengan Yesus dibentuk dari kasih yang berkorban bagi Yesus.

Pertanyaan yang menarik adalah:
-          mengapa di bagian ini Yesus membuat suatu kualifikasi persahabatan yang nampak berbeda?
-          Mengapa persahabatan dengan Yesus, di bagian ini, tidak dibentuk dari kasih murid kepada Yesus, kerelaan murid menyerahkan nyawa demi Yesus? Mengapa justru bagi orang lain?
-          Mengapa kasih kepada sesama harus menjadi hal yang utama bagi seorang yang ingin menjadi sahabat Yesus?

JAWABANnya adalah persahabatan dengan Yesus adalah persahabatan yang inklusif: Persahabatan yang tidak terpisah dengan orang lain, melainkan melibatkan orang lain.

-          Jika dua orang atau lebih bersahabat, mereka saling mengenal satu dengan yang lain, peduli satu dengan yang lain, tidak mengkhianati satu dengan yang lain. Relasi ini terjadi diantara mereka yang bersahabat saja. Relasi persahabatan mereka terpisah dari relasi dengan orang di luar persahabatan mereka. Inilah persahabatan yang ekslusif. Ini persahabatan yang baik, benar, tidak salah.
-          Namun, persahabatan dengan Yesus adalah persahabatan yang inklusif. Yesus mengasihi murid, murid mengasihi sesama. Yesus mengorbankan nyawa untuk murid, murid mengorbankan nyawa untuk sesama. Yesus memenuhi kebutuhan hidup murid, murid memenuhi kebutuhan hidup sesama.

Ø  Persahabatan yang Inklusif dengan Yesus adalah persahabatan yang menghasilkan buah. Jika kita membaca Yoh. 15, kita akan sering mendapati kata “buah.” Berbuah berarti melakukan sesuatu bagi orang lain seperti yang Yesus lakukan bagi kita.

Dalam 1 Yoh 3:16-18 dinyatakan, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

Dalam Matius 25:34-40, dinyatakan bagaimana persahabatan yang inklusif ditujukkan oleh orang yang ditempatkan di sebelah kanan sang Raja. Persahabatan inklusif dengan sang raja ditunjukkan dengan melayani orang lapar, haus, asing, telanjang dan dalam penjara, bukannya melayani sang raja secara langsung.

Ø  Persahabatan yang inklusif dengan Yesus adalah persahabatan yang sifatnya missioner: menjangkau orang lain bagi Kristus.

Praktek kasih kepada sesama atau saling mengasihi merupakan magnet yang kuat untuk menghantar orang lain kepada Kristus. Dalam Yohanes 13:34-35 dinyatakan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

“semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.” Kata “tahu,” dalam kalimat “semua orang akan tahu” menunjuk pada sikap mengenali, mengakui, melihat KRISTUS dalam kehidupan nyata. Yesus telah pergi kepada BAPA tetapi kehadiranNya dirasakan dalam kehidupan para murid yang saling mengasihi.

Praktek persahabatan yang inklusif yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula. Seperti yang dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 2:44-47. Mereka membagikan apa yang mereka miliki, tak ada jemaat yang kekurangan. Dan hasilnya (dampaknya bagi misi), jumlah orang percaya semakin bertembah. Jemaat mula-mula yang memiliki persahabatan yang inklusif dengan Yesus telah menjadi jemaat yang missioner dan terus menerus menjangkau banyak orang bagi Yesus.


Siapa yang ingin menjadi sahabat Yesus? Persahabatan dengan Yesus bukanlah persahabatan yang eksklusif melainkan persahabatan yang inklusif.
Ø  Kadang kita memandang persahabatan dengan Yesus adalah persahabatan yang Eksklusif, sehingga kita salah bersikap dalam hidup kita. Kita mengalami bagaimana Tuhan melawat kehidupan kita: menyembuhkan penyakit kita, mencukupkan kebutuhan hidup kita, melindungi dan menjaga kita, mengabulkan doa-doa kita.  Kita berpikir untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan. Kita tahu Tuhan tidak sakit, tidak kekurangan, tidak perlu dijaga. Lalu kita berpikir bagaimana melakukan sesuatu bagi Tuhan? Kita datang ke gereja lebih sering, memberi lebih banyak persembahan, lebih banyak waktu memuji Tuhan, lebih sering baca Alkitab, lebih sering berdoa, lebih sering menerima tawaran pelayanan dll. KITA INGIN MELAKUKAN SESUATU BAGI TUHAN KARENA KITA SAHABATNYA. Yang kita lakukan baik, tetapi dengan motivasi yang salah, lahir dari pemahanan yang salah.
Ø  Persahabatan dengan Yesus adalah persahabatan yang inklusif. Yesus melawat hidup kita, lawatlah kehidupan sesama. Yesus menyembuhkan penyakit kita – jadilah pembawa kesembuhan bagi sesama – berilah bantuan bagi orang-orang yang sakit; Tuhan mencukupkan kebutuhan hidup kita – jadilah utusan Tuhan yang mencukupkan kebutuhan orang lain yang berkekurangan. Tuhan mengabulkan doa-doa kita – maka jadilah jawaban bagi doa-doa sesama kita. INI PERSAHABATAN YANG INKLUSIF.

Ø  Cobalah menghitung semua berkat yang telah Tuhan Yesus berikan kepada kita sebagai sabahat. PERBUATLAH demikian kepada sesama. Setiap satu berkat yang kita terima, jadilah satu berkat bagi orang lain. Inilah bukti kita sahabat Yesus.

Ø  Persahabatan yang inklusif dengan Yesus membuat kita tetap mampu menunjukkan kasih kepada orang-orang yang mengecewakan, menolak dan membenci kita. Mengapa? Kita mengasihi karena kita sudah dikasihi Yesus terlebih dahulu. Bapa mengasihi Yesus, Yesus mengasihi saya, saya mengasihi orang lain. Yesus menyerahkan nyawaNya untuk saya, saya menyerahkan nyawa saya untuk orang lain. Yesus memberkati saya, saya menjadi berkat bagi orang lain – APAPUN RESPON ORANG TERSEBUT. Kasih kita kepada ‘orang orang sulit’ didasari oleh kasih Yesus pada kita.

Ø  Selanjutnya, persahabatan yang inklusif dengan Yesus merupakan persahabatan yang bersifat missioner. Kalau persahabatan yang inklusif dengan Yesus dipahami dan diterapkan, maka gereja akan bertumbuh, orang akan tertarik pada Kristus. Gereja tidak akan bertumbuh, orang lain tidak akan tertarik mengikut Yesus, bahkan gereja akan merosot JIKA gereja mempraktekkan persahabatan yang eksklusif dengan Yesus: Ibadah dirangcang begitu mempesona, sakral dan menggairahkan jiwa – namun jemaat abai terhadap penderitaan yang lain. Jika jemaat tidak sungguh peduli satu dengan yang lain, jemaat yang satu membiarkan jemaat yang lain menderita, tidak ada kerelaan berkorban bagi sesama, MAKA gereja tidak akan pernah menarik bagi orang lain.

Semoga firman Tuhan menolong kita memahami persahaban yang inklusif dengan Yesus: Yesus mengasihi kita dan kita mengasihi sesama.


download powerpoint disini