Bukan Kurban Biasa (Roma 5:6-8)

Sadar atau tidak sadar kita bisa seperti sekarang ini, karena ada orang yang berkorban untuk kita. Mungkin orangtua kita, mungkin om, tante, kakek, nenek, mungkin sahabat-sahabat kita, mungkin juga para pembimbing remaja. Sayang sekali jikalau pengorbanan tersebut tidak kita sadari, kita lupakan, bahkan kita abaikan. Sayang sekali. Hidup kita akan lebih baik dan bermakna jika kita menyadari pengorbanan orang lain bagi kita dan meresponi pengorbanan itu dengan baik.
Ada orang yang salah kaprah tentang pengorbanan, misalnya:
o   Ada dua orang bersahabat, yang seorang berkata kepada sahabatnya, “saya sudah korbankan uang sekolah untuk traktir kamu tapi kenapa mengkhianati persahabatan kita???” Itu bukan pengorbanan, itu kejahatan oiy.. Ada lagi yang bilang, “saya berkorban dengan berbohong ke ortu kalo mau belajar supaya bisa temanin kamu, skarang kamu kok menjauhi saya?” Itu bukan pengorbanan. Pengorbanan itu bernilai suci bukan legitimasi perbuatan dosa.
o   Orangtua juga sering salah memahami pengorbanan. Pengorbanan itu merelakan hak bukan melakukan kewajiban. Seorang berkorban ketika ia memberikan haknya. Dan tidak dapat dikatakan pengurbanan ketika seseorang melakukan suatu yang jadi kewajibannya. Coba tanya ke orangtua kita: Pa, Ma, apa yang sudah papa mama korbankan untuk saya? Kalau mereka bilang “saya sudah bayarin uang sekolahmu, makan kamu, dll.Bilang ke mereka, “Itu bukan pengorbanan itu! itu kewajiban papa dan mama.”
Kali ini belajar tentang sebuah pengorbanan, pengorbanan yang setiap tahun diulang-ulang diberitakan: itulah pengorbanan Kristus untuk kita. Kristus berkorban untuk kita dan kita dipanggil untuk hidup seturut pengorbanan itu.

Roma 5:6-8
Kutipan ayat yang kita baca adalah bagian dari surat Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus ingin menyampaikan suatu kebenaran yang sangat mengagumkan yang ia ingin jemaat ketahui pada saat itu. Kebenaran itu adalah PENGORBANAN KRISTUS DILAKUKAN KETIKA JEMAAT ROMA MASIH BERDOSA. Dalam bagian yang kita baca “orang berdosa” itu ditulis dengan beberapa frasa berbeda. Di ayat 6, orang berdosa sama dengan “orang lemah” dan “orang durhaka”. Di ayat 10 disamakan dengan “seteru.” Ketika MASIH lemah, ketika MASIH durhaka, ketika MASIH seteru, ketika MASIH berdosa, Kristus berkorban menanggung hukuman atas karena kelemahan, kedurhakaan, perlawanan dan keberdosaan jemaat
            Lemah berarti sangat mudah melakukan dosa, mudah terpengaruh, tidak berdaya melawan dosa, sehingga terus menerus berdosa. Durhaka adalah gambaran orang yang tidak hidup kudus. Mereka menyangkali Tuhan dalam hidup mereka. Mungkin mereka punya agama, tetapi sikap hidupnya menyangkali nilai-nilai kebenaran. Seteru adalah gambaran orang yang melawan dan memusuhi Tuhan. Kita tahu orang-orang Roma pada saat itu anti kekristenan. Anti Kristus. Bahkan Paulus sendiri dipenjara dan dipenggal di Roma.
            Untuk orang-orang demikianlah Kristus berkorban menanggung hukuman atas kelemahan, kedurhakaan, dan perlawanan itu. Pengorbanan itu dilakukan bukan setelah jemaat Roma yang lemah, durhaka, dan seteru ini, bertobat. Pengorbanan itu telah dilakukan sementara mereka MASIH dalam kelemahan, kedurhakaan dan perseteruan dengan Allah.
            Kebenaran ini yang sangat mengagumkan ini punya dua implikasi:
1.      Kristus sangat mengasihi orang Roma. Di saat mereka membenciNya, Dia berkorban dan mati untuk mereka. Di saat orang Roma tidak peduli denganNYa, Dia merelakan diriNya disalib untuk mereka. Di saat orang Roma melanggar perintahNya Dia memberikan nyawaNya untuk mereka.
2.      Ini adalah berita penghiburan mereka yang ingin lepas dari dosa. Allah berkenan menerima siapa saja yang mau lepas dari belenggu dosa, termasuk orang Roma pada saat itu. Dosa mereka sudah ditanggung Kristus. Allah mengampuni mereka karena Kristus.       
           
Amazing Grace
Ada sebuah lagu di Kidung Jemaat yang berjudul “Ajaib Benar Anugerah.” Lagu ini ditulis oleh seorang bernama John Newton. John Newton mempunyai ibu yang saleh dan mengajarkan Newton untuk terlibat di gereja sejak kecil. Pada usia 4 tahun Newton sudah hafal dasar-dasar pelajaran katekisasi dan banyak lagu-lagu Kristen. Mamanya meninggal ketika usianya 7 tahun. Dan masa hidup Newton setelah itu mengalami banyak masalah. Ia bergabung di sebuah kapal yang memperdagangkan budak-budak. Selama di kapal hidupnya jauh dari nilai-nilai kekristenan. Ia suka pesta pora dan berbagai dosa lain. Sampai suatu waktu, ketika ia telah menjadi seorang kapten kapal. Kapal yang dikemudikannya diterjang badai dan ia menghadapi situasi berat dan hampir mati.
            Dalam situasi itu, ia berdoa, Tuhan tolong saya. Dan hari itu Allah menyelamatkannya dari badai. Peristiwa itu membuka mata rohani Newton yang selama bertahun-tahun tertutup karena dosa. Ia menyesali kehidupannya yang penuh dosa dan meringkaskan kisah hidupnya dalam lagu “Ajaib Benar Anugerah” Jika kita merenungkan baris demi baris syair lagu tersebut, terlihat jelas kebenaran seperti yang dinyatakan dalam Roma 5:6-8.

Pengorbanan Yesus Bagiku
Mungkin saat ini engkau masih hidup dalam dosamu. Suka berbuat dosa dan mengabaikan Tuhan dalam hidupmu. Seorang yang mengabaikan Tuhan bisa saja hadir di gereja, tetapi sesungguhnya hatinya jauh dari TUhan.
Seringkali kita mengecam orang yang menyiksa Yesus dalam kisah-kisah penyaliban, tetapi kita lupa bahwa kita yang menyebabkan Ia tersalib. Bahkan mungkin jika kita hidup pada zaman itu kita salah satu dari mereka yang berteriak, Salibkan Dia!,
Engkau juga mungkin menjadi anak yang menyakiti hati orangtuamu, membohongi mereka, menyia-nyiakan kepercayaan mereka. Membuat ibumu menangis dan papamu marah. Sikap hidup demikian bukan hanya menyakiti orangtua, tetapi juga hati Tuhan.
Kabar baik bagi kita adalah kasih Tuhan untukmu belum berakhir. Meski sikapmu mengabaikan Tuhan dan berdosa terhadapNya. Ia masih arahkan tanganNya kepadamu, Ia berkata: Aku sangat mengasihimu meski saat ini engkau mengabaikanku. Aku sudah menebusmu, maukah engkau kembali kepadaKu?
Mungkin ada diantara saudara yang sungguh-sungguh merasa sesak dengan dosa. Merasa dirimu terbuang dan kotor. Orangtuamu mungkin bahkan sudah menyerah dan membiarkanmu. Teman-teman mencap kamu dengan kata-kata yang tidak baik, yang membuatmu semakin merasa sendiri dan terkucilkan.
Kebenaran firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa masih ada Pribadi yang sayang padamu. Masih ada yang membuka tangan persahabatan untukmu. Ia menghargai dan mengasihimu. Ia sudah berkorban untukmu. Ia berkata, “mari nak, aku mengasihimu lebih dari apapun.”
Kalau Tuhan hari ini menggerakkan hatimu untuk meninggalkan dosa-dosamu, jangan abaikan panggilan Tuhan itu. Dengarlah suaranya memanggilmu, berbicaralah kepadaNya secara pribadi dalam doa.  Akuilah dosamu dihadapanNya. Dia sudah mengampunimu.