MUTUAL LOVE - Kasih Persaudaraan (1 TESALONIKA 4:9-12)


Slide Khotbah dapat diunduh di sini

Mutual Love (Kasih Persaudaraan)

1 Tesalonika 4:9-12


Pendahuluan

Mark Manson, seorang penulis yang terkenal belakangan ini, dalam blognya ia membandingkan dua orang musisi. Musisi yang pertama adalah John Lennon, yang menulis lagu berjudul “All You Need is Love,” yang mengagungkan keutamaan kasih, namun sayangnya dalam kenyataan hidupnya ia selingkuh, memukul isterinya, mengabaikan anaknya dan melecehkan manajernya dengan makian rasial. Sementara seorang musisi lain bernama Trent Reznor menciptakan lagu dengan judul “Love is Not Enough,” yang nampak menyangsikan kecukupan cinta, tetapi dikisahkan dalam ketenarannya, ia justru berhasil bebas dari obat-obatan terlarang dan alkohol. Ia menikahi satu wanita dan dikaruniai dua anak dan kemudian dalam pengalaman hidupnya,  ia rela membatalkan tur dan rilis albumnya demi dapat tinggal di rumah dan menjadi suami dan ayah yang baik.

Dua kisah ini menunjukkan seperti ada gap atau kesenjangan antara apa yang dipahami tentang kasih (yang dituangkan dalam syair lagu) dengan apa yang dipraktikkan dalam keseharian. Dan dari perbandingan ini ada pertanyaan mendasar yang timbul: apakah kasih itu cukup menopang kehidupan kita? Bagaimana menghapus gap antara pemahaman tentang kasih yang benar dengan perilaku yang mengasihi?

Hari ini kita belajar dari jemaat Tesalonika, suatu jemaat yang kata Paulus, “telah menjadi teladan” (1Tes 1:7) bagi orang-orang percaya lainnya. Dari surat Paulus kepada jemaat Tesalonika kita belajar paling tidak dua kebenaran tentang kasih. 


Pertama: kasih yang sejati perlu dihidupi dengan sungguh-sungguh karena itu cukup untuk menopang kehidupan kita. 


Penjelasan (Ay. 9-10)

Rick Warren dalam buku The Purpose Driven Life, Bab 16 menuliskan,  “Life is all about love” (ID: seluruh kehidupan berkisar pada kasih). Kasih itu dapat mencakup seluruh hidup kita. Karena itu kasih itu cukup menopang kehidupan kita. 


Selanjutnya, Firman Tuhan dalam Matius 22:37-40, menyatakan ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Bagian ini menegaskan bahwa firman Tuhan itu jika dirangkum akan menjadi hukum kasih: kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Jadi kehidupan yang dinyatakan dalam Alkitab adalah tentang kehidupan yang mengasihi Allah dan sesama. Karena itu kasih cukup menopang kehidupan kita. Seperti firman Tuhan cukup menopang kehidupan kita. 

Selanjutnya lagi dalam 1 Yohanes 4:8 dinyatakan bahwa “Allah adalah kasih.” Hal ini makin menegaskan bahwa kasih sangat lebih dari cukup dapat menopang kehidupan kita. Karena Allah sendiri adalah kasih.

Pertanyaannya adalah bagaimana menghidupi kasih dengan sungguh-sungguh sehingga kehidupan kita dapat ditopang oleh kasih? Dalam hal ini kita perlu belajar dari kehidupan jemaat Tesalonika. 


Di ayat 9-10. Paulus menyatakan bahwa “tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu,” ini sebuah pujian bahwa jemaat Tesalonika tidak punya gap atau tidak ada kesenjangan antara apa yang mereka pahami tentang kasih dengan perilaku kehidupan mereka yang mengasihi. Kamu sendiri telah belajar mengasihi dari Allah dan kamu lakukan juga kepada semua saudara di wilayah Makedonia. Tidak ada kesenjangan di situ. Apa yang mereka pelajari dari Allah, telah mereka terapkan kepada kepada orang lain. Dan mereka diminta lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 

Belajar lagi dan lakukan lagi, makin berkualitas makin meluas. Kasih yang tidak terbendung. 

Paulus menggunakan kata “theodidak” (God-taught) yang menunjukkan bagaimana jemaat Tesalonika membangun pemahamannya akan kasih.  Ini bukan kasih yang otodidak yang ditemukan secara perenungan pribadi (self-taught) seperti ajaran filsuf Yunani. Kasih yang bersumber dari Allah sendiri itulah yang dipelajari oleh Jemaat Tesalonika. Penafsir mengatakan bahwa Roh Kudus yang mengajari mereka tentang kasih yang sejati. Roh Kudus yang mengajar dan menguatkan mereka untuk mengasihi. Teodidak mencakup daya dorong untuk mengasihi bersumber dari Allah sendiri. 

Karena itu dapat dipastikan bahwa jemaat Tesalonika adalah jemaat yang sangat dekat dengan Tuhan. 

Mereka yang belajar mengasihi dari Allah dan didorong oleh Allah untuk mengasihi membuat mereka menyatakan kasih itu kepada sesama. Inilah mutual love itu, sesuai tema kita hari ini. Mutual love itu berasal dari kata Yunani filadelfia. TNIV menerjemahkannya sebagai “mutual love”. TB menerjemahkannya sebagai “kasih persaudaraan,” “brotherly love” (ESV, KJV). Ada juga menerjemahkannya sebagai “loving each other, ” atau saling mengasihi. Ini merupakan kasih yang terbangun dalam komunitas umat Allah dan bahkan lebih luas kepada semua orang. Seorang yang diajar oleh Allah tandanya adalah saling mengasihi, memiliki mutual love itu. 


Mungkin kita masih ingat perkataan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya menjelang paskah. Yohanes 13:34-35, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Perkataan Yesus ini kembali menegaskan bahwa seorang yang theodidak (murid-murid-Ku) akan saling mengasihi (mutual love)


Seorang yang terus menjaga kedekatannya dengan Tuhan, akan terus belajar mengasihi dari Allah, dan didorong oleh Allah untuk terus mengasihi. Itu bisa digambarkan seperti spiral yang makin ke atas makin berkualitas makin ke atas makin meluas. Makin dekat kepada Tuhan, makin terus belajar mengasihi dan dampak kasih itu makin meluas, makin mengasihi sesama. Inilah yang Paulus nasihatkan untuk bersungguh-sungguh melakukannya. Sehingga kehidupan dapat ditopang oleh kasih itu.


Ilustrasi

Bapak/ibu saudara mungkin masih ingat kisah seorang perempuan muda bernama Ade Sara Angelina Suroto yang dibunuh oleh mantan pacarnya dengan keji pada tahun 2014. Orangtua Ade Sara, Suroto dan Elizabeth, mengampuni pelaku yang menghabisi nyawa putri mereka dan itu menjadi berita yang viral pada saat itu. Koran Tempo memberi judul liputan mereka “Mengapa Orang Tua Ade Sara Maafkan Pelaku?” Suroto mengaku bahwa permaafan yang dilakukannya adalah pengejawantahan perintah Tuhan. Sementara itu, Kanal berita online lainnya Merdeka.com menuliskan kutipan wawancara Suroto yang mengatakan, “Sebagai manusia, sangat sulit mengampuni orang yang membunuh anak kita, bahkan bisa saja membalas dendam. Tapi saya minta Tuhan menguatkan, justru saya bersyukur karena kami disanggupkan untuk mengampuni mereka.”

Theodidak: belajar mengasihi dari Allah dan pada saat yang sama mendapat kekuatan untuk mengasihi sesama. Theodidak terjadi dengan menjaga hubungan yang dekat dengan Tuhan.  



Aplikasi

Kasih yang sejati perlu dihidupi dengan sungguh-sungguh karena itu dapat menopang kehidupan kita. Kasih sejati yang dihidupi membuat kita dapat mengasihi sesama bahkan di dalam situasi yang berat sekalipun. Menghidupi dengan sungguh-sungguh berarti terus menjaga sehingga proses theodidak terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari: belajar dari Allah dan dimampukan Allah mengasihi sesama.

Apakah saudara merasa sulit mengasihi orang lain? Apakah merasa tidak bisa mewujudkan kasih persaudaraan itu? Akar masalahnya adalah kita tidak memiliki relasi yang dekat dengan Allah sehingga proses theodidak itu tidak terjadi. 

Seringkali ekspresi kasih kita dampaknya tidak meluas. Tidak ada orang yang kita jangkau, tidak orang yang kita bantu, tolong atau beri penghiburan. Keluarga kita tidak punya dampak bagi orang lain. Topik doa kita selalu untuk kebutuhan diri, diri dan diri. Kasih kita stagnan ini juga ditengarai berasal dari relasi yang tidak bertumbuh dengan Tuhan. Theodidak selalu berdampak pada kasih yang kian meluas. 

Firman Tuhan hari ini mengajak kita membangun relasi yang dekat dengan Tuhan sehingga proses theodidak dapat terjadi sehingga mutual love kita kian meluas.



Kedua: Kasih yang sejati akan membawa diri kita kepada kemandirian dengan itu kesenjangan antara pemahaman dan perilaku dapat dihilangkan.



Penjelasan (Ay. 11-12)

Salah satu penyebab mengapa ada kesenjangan (gap) antara kasih yang kita pahami dengan perilaku kehidupan kita adalah karena relasi kita belum mandiri. Akan tetapi kasih yang sejati akan membawa diri kita kepada kemandirian. 

Ada sekelompok kecil orang di Jemaat Tesalonika, yang bukannya menyatakan kasih kepada orang lain, tetapi justru memanfaatkan kasih sayang jemaat lain dengan kehidupan yang bermalas-malasan dan enggan bekerja. Mereka seperti parasit di dalam Jemaat sehingga kasih persaudaraan itu dapat menjadi tantangan jika terus dibiarkan. Oleh karena itu, pada ayat 11-12, Paulus mengingatkan mereka untuk memiliki keinginan yang kuat untuk hidup dengan tenang, bebas dari perilaku yang mengganggu atau membebani orang lain, mengurus persoalan sendiri, dan bekerja dengan tangan sendiri. Sehingga mereka dihormati dan tidak bergantung pada orang lain. Ini penekanan kemandirian dalam relasi Jemaat


Paulus bahkan memberi contoh dengan kehidupannya sendiri (1 Tesalonika 2:8-9), “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” Ada kemandirian dalam tim pelayanan yang melayani jemaat Tesalonika, Paulus dan tim pelayanan tidak ingin menjadi beban bagi orang-orang yang mereka layani, karena itu mereka bekerja sedemikian rupa dengan tetap menunaikan tugas penginjilan mereka. 

Kasih yang sejati membawa diri kita menuju kemandirian sehingga tidak ada kesenjangan dalam pemahaman kita tentang kasih dengan praktik kasih dalam keseharian kita. Dalam pola relasi ada orang yang bersikap dependen merasa terbatas, tidak mampu memikul tanggung jawab tertentu sehingga ia akhirnya menuntut dikasihi. Orang seperti ini perlu berusaha menuju kemandirian, berjuang untuk tidak menjadi beban bagi orang lain, belajar menyatakan kasih dengan cara yang ia mampu, bukannya menuntut. Ada juga yang bersikap Independen merasa bebas tapi tidak mau ambil tanggung jawab, punya kemampuan tetapi tidak ingin terlibat, selalu berdalih dan mengabaikan kebutuhan orang di sekitarnya.  Orang seperti ini perlu menyadari bahwa ia bisa ada karena ada orang yang mendukung dia. Orang yang lain lagi ada yang bersikap kodependen

yang merasa bertanggung jawab untuk semua hal tetapi tidak menikmati, merasa harus mengasihi orang lain dengan mengesampingkan kebutuhannya sendiri akan kasih. Orang seperti ini perlu menempatkan kasih dengan benar: ada saatnya mengasihi dan ada saatnya menikmati kasih. Sikap yang kita harapkan adalah sikap yang interdependen memahami kasih yang sejati bersumber dari theodidak, mengambil tanggung jawab untuk mengasihi, tidak menjadi beban bagi orang lain, membuka diri mereka sendiri menjadi objek kasih yang mutual. 

Aplikasi

Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah kasih yang kita praktikkan adalah kasih dalam relasi yang kemandirian atau interdependen? Seringkali kasih kita adalah kasih yang menuntut, kita berkata, “saya mengasihi jika saja …” ada tuntutan dalam kasih kita dan itu membuat kasih kita rapuh. Saya akan mengasihi jika saya diperlakukan dengan baik. Tidak ada semangat pengorbanan yang ada adalah tuntutan dan tuntutan kepada orang lain. Kita menuntut pasangan kita, kita menuntut orang tua kita, kita menuntut anak-anak kita, kita menuntut pendeta, kita menuntut Tuhan untuk mengasihi dan menolong dia.

Cara mudah mendeteksi ada gap atau kesenjangan dalam kasih kita adalah jika kita mudah marah, mudah konflik, hitung-hitungan dalam relasi kita dengan orang lain. Itu semua menunjukkan kasih kita belum mandiri. Mulai lagi membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan, mengevaluasi kembali pemahaman dan praktik kasih kita kepada sesama.

Atau kita mungkin orang yang selama ini mengabaikan pelayanan. Diminta pelayanan di gereja selalu menghindar, diminta pelayanan di tempat kerja merasa tidak ada waktu, diminta menolong orang lain selalu berdalih, bahkan untuk berdoa bagi orang lain pun tidak pernah. Jika kita adalah orang seperti ini, maka kita perlu sungguh-sungguh datang pada Tuhan dan bertobat. Semua orang yang mengasihi Allah akan mengasihi sesamanya. 


Penutup 

Demikianlah firman Tuhan hari ini, kiranya Allah menolong kita untuk memiliki mutual love (kasih persaudaraan) yang kian meluas dan dalam relasi yang mandiri. Dan itu dimulai dari relasi yang dekat dan konsisten dengan Allah sehingga proses theodidak dapat terus terjadi: dimana kita belajar dan dimampukan oleh Allah memiliki mutual love. Amin


#SHORTS Relasi Iman, Perbuatan dan Keselamatan Kristen (1 Menit)


#SHORTS Relasi Iman, Perbuatan dan Keselamatan Kristen

Apakah keselamatan Kristen hanya bicara tentang Iman semata?
Apakah perbuatan baik (amal) bisa menyelamatkan?
Apakah iman dan perbuatan baik menjadi syarat diselamatkan?
Bagaimana Alkitab mengungkapkan relasi iman, perbuatan baik dan keselamatan?

PEMURIDAN DARING (Online Discipleship)

PEMURIDAN DARING 

Victor Sumua Sanga, S.T., M.Div.

  

Pandemi yang melanda dunia, termasuk Indonesia, menuntut perubahan dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satu bidang yang “dipaksa” berubah adalah bidang pendidikan, yang diantaranya mencakup institusi sekolah formal, termasuk sekolah Kristen. Pembatasan fisik selama pandemi membuat sekolah Kristen, sama dengan sekolah lainnya, dibatasi bahkan dilarang melakukan aktivitas yang memungkinkan terjadinya interaksi secara fisik. Dalam situasi demikian, sekolah Kristen harus berubah demi mengikuti kebijakan dan arahan pemerintah, untuk menghambat penyebaran virus corona. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah perubahan dari pembelajaran di ruang kelas menjadi pembelajaran daring di kelas virtual. 

Sebagai sebuah institusi pendidikan yang bertanggung jawab, sekolah Kristen tidak hanya sekedar menerapkan pembelajaran daring, tetapi juga perlu memikirkan dengan serius apatah tujuan pendidikan dapat benar-benar tercapai melalui pembelajaran daring tersebut. Bahkan lebih dari sekedar memikirkan tujuan pendidikan secara umum, sekolah Kristen perlu memastikan bahwa fokus dan tujuan utama pendidikan Kristen dapat tetap tercapai melalui pembelajaran daring.  Apakah fokus utama pendidikan Kristen? William F.  Cox & Peck (2018) menyatakan bahwa pembinaan pemuridan Kristen merupakan fokus utama dari pendidikan Kristen, yang harus dikerjakan oleh tiga pilar pendidikan Kristen: keluarga, gereja dan termasuk sekolah Kristen. Dalam konteks sekolah, fokus ini sama pentingnya dengan pengetahuan akademik, bahkan bisa dianggap lebih penting karena berdampak kekal. Pemuridan Kristen dilakukan untuk membawa para murid mengalami pertumbuhan iman hingga mencapai, “... kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Efesus 4:13). 

Dapatkah pembelajaran daring memfasilitasi terjadinya pemuridan demi tercapainya tujuan pendidikan Kristen? Paper ini disusun dengan tujuan untuk menyajikan beberapa data penelitian dan saran praktis bagaimana pembelajaran daring dapat memfasilitasi proses pendidikan, secara khusus pembinaan pemuridan Kristen, untuk mencapai tujuan pendidikan Kristen yaitu pertumbuhan iman. Paper ini juga diharapkan dapat memberikan saran praktis bagaimana menjadikan pemuridan daring secara efektif mencapai pertumbuhan iman yang diharapkan. 


 

Pemuridan Daring dapat Memfasilitasi Pertumbuhan Iman

Pendidikan daring sebenarnya bukan baru ada pada masa pandemi. Jauh sebelumnya sudah banyak institusi pendidikan, termasuk institusi pendidikan Kristen, yang menerapkan pembelajaran daring di samping pembelajaran tradisional di kelas. Mereka mengadopsi pendidikan daring mulai dari yang hanya sebagai salah satu variasi pembelajaran kelas hingga menerapkan secara keseluruhan pembelajaran daring untuk mendapat gelar akademis. Demi meningkatkan kualitas pendidikan daring tersebut, mereka telah secara khusus mempelajari perubahan pedagogis yang diperlukan. Keterlibatan pendidik Kristen dalam penerapan pendidikan daring terjadi karena mereka melihat adanya peluang yang besar untuk mengerjakan Amanat Agung melalui cara ini, menjangkau orang lebih banyak dalam waktu yang fleksibel (Ferguson, 2020)   

Di samping institusi yang bergerak maju dengan kelas daring, ada institusi Kristen lain yang terus menekankan interaksi tatap muka langsung. Mereka menyangsikan kemungkinan memiliki pembelajaran daring yang berkualitas, meragukan peluang pemuridan dan pertumbuhan iman dapat terfasilitasi melalui pendidikan daring. Mereka meyakini bahwa tatap muka langsung merupakan keunikan pendidikan Kristen karena itu mereka menolak transisi ke pendidikan daring. Ironisnya, ketika pandemi melanda, mereka memasuki situasi yang baru ini dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, pertanyaan yang bukan hanya pada tataran praktis, tetapi juga esensial tentang dapatkah pembelajaran online sungguh memfasilitasi pertumbuhan iman dan formasi spiritual Kristen (Ferguson, 2020). 

 

Data Penelitian Penerapan Pembelajaran Daring di Lembaga Pendidikan

Sebuah Online Report Card yang dirilis tahun 2016 yang berisi rekam jejak pendidikan daring di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pembelajaran online dapat memenuhi tujuan pendidikan dengan baik. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2015 ini menunjukkan 71,4% pemimpin akademik menilai bahwa hasil pembelajaran daring lebih unggul dari pembelajaran tatap muka. Meskipun angka tersebut turun dari 77% di tahun 2014, tetapi masih lebih tinggi dari rasio 57,2% di tahun 2003 (Allen et al., n.d.). Selain itu, persepsi pelajar yang terlibat dalam pembelajaran daring makin lama makin baik. Meskipun para pelajar cukup bergumul di awal implementasi, tetapi seiring dengan perkembangan yang ada, persepsi pelajar terhadap pendidikan daring makin bertumbuh positif, dari sekedar video dan interaksi yang minimalis menjadi media belajar yang substantif, variatif dan optimal (Ferguson, 2020). 

Penelitian dan pengembangan penerapan pembelajaran daring dalam lingkup pendidikan Kristen menunjukkan hasil yang senada, bahkan ketika itu dikaitkan dengan pemuridan daring. Berdasarkan standar akreditasi penerapan pembelajaran daring yang dibuat oleh Asosiasi Sekolah Teologi di Amerika Serikat dan Kanada (ATS) menggambarkan bahwa formasi spiritual, sebagai elemen penting pemuridan, dapat diterapkan secara strategis dalam pendidikan daring (Educational Models and Practices Project: Peer Group Final Reports | The Association of Theological Schools, n.d.). Gambaran ini sejalan dengan hasil survei terhadap sejumlah profesor dari Evangelical Theological Society, dimana hampir 75% mereka setuju bahwa pendidikan online dapat mencapai tujuan pendidikan teologi dan membentuk formasi spiritual (Ferguson, 2020).

Peningkatan Jumlah Komunitas Rohani Berbasis Daring

Sejak pandemi ditetapkan pada 2020, seiring dengan pembatasan fisik makin meluas penerapannya, ada migrasi besar-besaran dari perkumpulan rohani dengan tatap muka langsung menjadi pertemuan daring: ibadah gereja, seminar rohani, rapat-rapat pengurus dan panitia kegiatan rohani, persekutuan doa, hingga kelompok pemuridan. Meskipun ada peningkatan sangat signifikan di masa pandemi, sesungguh peningkatan jumlah komunitas rohani berbasis daring sudah mulai tumbuh subur pada tahun-tahun sebelumnya. 

Pembentukan komunitas rohani yang mengadakan pertemuan daring tidak dapat dilihat sebagai upaya menjauhkan diri dari komunitas fisik, melainkan harus dipandang sebagai upaya memperluas interaksi karena pertemuan daring tidak dibatasi oleh tempat lagi. Komunitas sosial yang dibangun secara daring dapat menjadi kontributor kuat bagi perkembangan dan pertumbuhan rohani seseorang (Maddix et al., 2012). Orang-orang berkumpul secara daring dalam jumlah yang terus meningkat dimotivasi oleh keinginan untuk tumbuh secara rohani. Komunitas rohani yang berbasis daring ini membagikan iman dan saling mendukung satu dengan yang lain secara konsisten melalui media sosial, website, blog, kanal Youtube, hingga konferensi video (Lowe, 2018). 


 

Aktivitas Online Sudah Menjadi Bagian Kehidupan Personal

Dunia digital (daring) sudah saatnya dilihat sebagai bagian yang sudah menyatu dengan kehidupan personal masa kini. Oleh karena itu, aktivitas daring tidak lagi dapat dilihat sebagai bagian yang terpisah dan terkotak-kotak dari kehidupan seseorang. Sebagai manusia yang utuh kita bagian dari dunia daring, karena itu jika seseorang dapat mengalami pertumbuhan rohani melalui aktivitas tatap muka langsung, maka seharusnya itu juga yang memampukan dan menopangnya memiliki pertumbuhan rohani dalam aktivitas daring. Formasi spiritual yang dibangun harus dapat terintegrasi dalam keseluruhan hidup entah itu daring atau tatap muka langsung (Lowe, 2018). Konsep yang sama diungkapkan juga oleh Maddix et al. (2012) bahwa perkembangan spiritual seseorang merupakan proses pengudusan yang terjadi di berbagai kondisi, termasuk saat berinteraksi melalui pemuridan daring.

Selanjutnya, perkembangan teknologi virtual yang ada saat ini terus memfasilitasi upaya membangun disiplin rohani secara daring: video khotbah atau penjelasan firman, website yang memfasilitasi penyelidikan Alkitab, podcast yang memandu untuk meditasi dan berdoa, pertemuan doa atau sharing online (Meadows, 2012). Kenyataan seperti ini gayung bersambut karena ada orang-orang yang berupaya secara konsisten untuk mengakses konten rohani daring untuk membangun kehidupan spiritualnya. Contohnya hasil temuan di Amerika Serikat, Grey Matter Research menemukan bahwa 44% orang dewasa Amerika dengan akses online menggunakan Internet untuk tujuan keagamaan: mengunjungi situs web gereja, memperoleh pengajaran agama, membaca blog keagamaan, berpartisipasi dalam jejaring sosial, dan mengikuti gereja atau pemimpin agama di Twitter. Dan menariknya, dalam penelitian tersebut lebih dari separuh orang dewasa ini berusia di bawah 35 tahun (seperti yang dikutip dalam Shirley, 2017)

 

Saran dalam Upaya Pengembangan Pemuridan Daring

Kita tahu bahwa di sisi lain pertemuan daring ada batasan dan kelemahannya, tetapi itu bukan disikapi dengan menarik atau menutup diri dari dunia daring, karena memang pada dasarnya dunia daring secara praktis tidak dapat dihindari (Meadowsi, 2014).  Dunia terus berkembang, teknologi berubah dengan cepat, maka tantangan dan peluang pembelajaran akan terus ada. Meskipun kita ada di dalam situasi dan kondisi yang berubah, inti dari pemuridan itu tidak berubah: tinggal di dalam Kristus, mengasihi satu dengan yang lain dan bekerja bagi kerajaan Allah. Metodologi dan teknologi akan berubah dari waktu ke waktu. Tugas kita adalah tetap fokus pada pemuridan dan dengan bijaksana menggunakan media yang Tuhan berikan untuk kita manfaatkan, internet (Shirley, 2017). 

Berikut ini beberapa saran pengembangan pemuridan daring:

  1. Persiapan yang matang. Maddix et al. (2012) menyatakan bahwa memfasilitasi pembelajaran daring berbeda dengan pembelajaran tatap muka langsung. Oleh karena itu, pemimpin pemuridan perlu berinvestasi dan mempersiapkan dengan baik sarana dan prasarana yang diperlukan. Pemimpin perlu upaya yang ekstra untuk mempersiapkan dengan baik materi atau bahan pemuridan sehingga materi dapat disampaikan dengan baik dan anggota dapat mengalami pembelajaran yang menarik. 

  2. Pemanfaatan sumber daya daring. Salah satu kekuatan pembelajaran daring adalah melimpahnya sumber daya yang terus menerus diperbaharui, tentu saja termasuk sumber daya pemuridan Kristen: mulai dari konten, peralatan hingga metode penyajian. Pemimpin perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sumber daya daring sehingga dapat meramu dan menyajikan pemuridan daring yang efektif, efisien dan dapat diandalkan.

  3. Kehadiran yang tak terbagi. Tetapi perlu diingat bahwa ada perbedaan antara memiliki banyak koneksi daring dengan memiliki relasi yang bermakna, antara mudah terkoneksi secara daring dengan persahabatan yang sejati. Dalam hal ini diperlukan kehadiran yang tidak terbagi ketika membangun interaksi daring (Meadowsi, 2014).

  4. Asesmen yang dapat diandalkan. Asesmen merupakan pusat untuk memastikan kualitas dari pertemuan daring (Maddix et al., 2012). Perlu merancang asesmen yang dapat merekam pertumbuhan rohani dengan lebih menyeluruh dan valid, misalnya:  ada pertemuan rutin secara daring untuk mengukur tingkat pertumbuhan rohani; mengembangkan rubrik yang dapat mengukur pertumbuhan rohani individu yang mencakup beberapa aspek pertumbuhan; pertemuan pribadi anggota dengan mentor untuk melaporkan formasi spiritual dan pelayanannya; terbuka dengan laporan atau umpan balik dari komunitas terkait pelayanan anggota pemuridan. 


DAFTAR PUSTAKA


Allen, I. E., Seaman, J., Poulin, R., & Straut, T. T. (n.d.). TRACKING ONLINE EDUCATION IN THE UNITED STATES. 62.

Educational Models and Practices Project: Peer Group Final Reports | The Association of Theological Schools. (n.d.). Retrieved October 1, 2021, from https://www.ats.edu/resources/educational-models-and-practices-project-peer-group-final-reports

Ferguson, K. A. (2020). Excellence in online education: Creating a Christian community on mission. B & H Academic.

Lowe, S. D. (2018). Ecologies of faith in a digital age: Spiritual growth through online education. IVP Academic, an imprint of InterVarsity Press.

Maddix, M. A., Estep, J. R., & Lowe, M. E. (Eds.). (2012). Best practices of online education: A guide for Christian higher education. Information Age Publishing Inc.

Meadows, P. R. (2012). Mission and Discipleship in a Digital Culture. Mission Studies, 29(2), 163–182. https://doi.org/10.1163/15733831-12341235

Meadowsi, P. (2014). Mission-Shaped Discipleship in a Virtual World. Wesleyan Theological Journal, 49(2), 48–73.

Shirley, C. (2017). Overcoming Digital Distance: The Challenge of Developing Relational Disciples in the Internet Age. Christian Education Journal, 14(2), 376–390.

William F.  Cox, J., & Peck, R. A. (2018). Christian Education as Discipleship Formation: Christian Education Journal. https://doi.org/10.1177/0739891318778859

 

 


Mature Thinking (Filipi 4:8)



8
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 9Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.



Pendahuluan

Kartini: Tubuh terpasung, Pikiran bebas

Dalam salah satu suratnya, Kartini pernah menulis: Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya. Kalimat ini merupakan sebuah respons karena dia waktu itu dipingit. Pingitan itu merupakan tradisi Jawa dimana mempelai tidak diizinkan keluar rumah selama rentang waktu tertentu. Kalau baca tujuan pingitan sebenarnya ada sisi positifnya: (1) untuk mempersiapkan mempelai dalam tugas-tugas rumah tangga (2) memupuk kerinduan dari mempelai (3) menjauhkan dari mara bahaya. Tetapi bagi Kartini saat itu, ia merasa itu menjadi beban. Akan tetapi menariknya, dia dalam refleksinya, ia menyadari bahwa dalam kondisi yang “terpenjara” oleh budaya, “terpasung” oleh dinding rumahnya; pikirannya dapat terbang sebebas-bebasnya. Pikiran-pikiran Kartini yang tidak terpasung inilah yang menggairahkan hidupnya, membuatnya menemukan tujuan hidupnya, menjadikannya orang yang penting dalam sejarah bangsa Indonesia.


Gelas Setengah Kosong atau Setengah Penuh

Di era kemajuan teknologi saat ini, hampir tidak ada yang bisa membatasi lagi diri kita. Kita mungkin tidak bisa hadir secara fisik tetapi hadir secara virtual. Tetapi ironisnya di zaman yang sepertinya tanpa batas ini, sebagian orang justru terpasung oleh pikirannya sendiri. Jika pikiran sudah terpasung, tubuh bebas seperti apapun tidak ada gunanya. Salah satu contoh pasung pikiran yang sederhana adalah bagaimana pandangan kita terhadap sebuah gelas yang berisi air. Jika kita melihat gelas itu kosong setengah berarti kita sedang memasung pikiran kita. Seorang penulis, Sue Hadfield menyatakan saat Anda berpikir bahwa gelas Anda kosong setengah, Anda sedang membatasi pilihan hidup Anda sendiri. Berikut ini beberapa frasa atau kalimat yang memasung pikiran misalnya: 

  • Saya tidak punya harapan

  • Saya sudah tidak bisa berubah

  • Saya tidak bisa

  • Saya terlalu tua, saya terlalu muda

  • Saya tidak mampu

  • Saya tidak punya kesempatan lagi

  • Ini sulit sekali

  • Itu karena kesalahan orang tua

  • Kondisi membuat saya seperti ini

Ketika ini diulang terus menerus dalam pikiran kita, itu menjadi pasung pikiran yang menjadi penghambat terbesar dalam hidup kita. Hal itu persis seperti seekor gajah kecil yang diikat dengan tali kecil, ia berusaha berontak awalnya tapi tidak bisa lepas juga. Hingga dewasa, meskipun ia memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi dalam pikirannya ia sudah tidak bisa melepaskan diri dari tali itu. Akhirnya seekor gajah yang kuat takluk pada seutas tali yang kecil, karena pikirannya sudah terpasung pada masa lalu. 

Bagaimana mengembangkan pemikiran terbang sebebas-bebasnya yang berdasar pada kebenaran? Sesuai dengan tema kita “Dewasa dalam Berpikir”


Penjelasan Firman Tuhan

Di ayat 8, dinyatakan, “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”


Benar = aletheia : tidak tersembunyi, untuk menghindari pemberitahuan

Mulia = semnos: terhormat karena karakter

Adil = dikaios: adil penerapan aturan terkait tuntutan tugas

Suci = hagios: ada kemurnian, jauh dari motivasi jahat

Manis = prosphiles: diterima karena menunjukkan kasih yang menyenangkan

Sedap didengar = euphemos: mengucapkan kata-kata yang baik

Disebut Kebajikan = Arete: moral yang baik/bermoral

Patut Dipuji = epainos: membawa pujian/ dipuji


Kedelapan hal ini perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh dalam Tuhan. Standarnya adalah apa yang benar, mulia, adil, suci, manis, desap didengar, disebut kebajikan, patut dipuji dalam Tuhan. Karena itu di ayat 7 dinyatakan bahwa pikiran dipelihara dalam Kristus Yesus. Ini yang membedakan dengan apa yang dipikirkan oleh dunia. Standarnya adalah diri sendiri atau lingkungan; tetapi orang percaya standar pikirannya ada dalam Tuhan. Dalam Tuhan juga berarti Tuhan yang memberi kekuatan dan kemampuan melakukan apa yang kita pikirkan



Pikiran Negatif

Pikiran Positif

Pikiran Kristen Dewasa

Saya tidak bisa

Saya bisa

Dalam Tuhan, saya bisa

Saya benci dia

Saya memaafkan dia

Dalam Tuhan, saya akan berusaha 

mengampuni dia - standarnya Tuhan

Pelajaran ini sulit

Tidak ada pelajaran yang sulit

Dalam Tuhan, saya akan berjuang mempelajarinya dengan baik - hikmat dan kemampuan dari Tuhan


Berpikir dalam kebenaran bukan berarti merapal mantra atau ilusi: saya pasti bisa, saya pasti bisa, saya pasti bisa. Kata kerja yang dipakai Paulus ketika mengatakan, “pikirkanlah semuanya itu”, adalah logizomai, berarti “memperhitungkan dengan cermat” atau “menghitung.” Itu berarti rangkaian proses berpikir: kita harus berdiam, berpikir, merenungkan, mempertimbangkan dengan cermat, memperhitungkan solusi atau jalan keluar dan merenungkan hal-hal yang kita hadapi dalam Tuhan.


Ilustrasi

Berpikir Dewasa berarti menempatkan pemikiran kita itu dalam standar dari topangan Tuhan. Berpikir dewasa juga berarti mempertimbangkan dengan cermat dan penuh perhitungan bukan suatu mantra atau ilusi.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Cairnmillar Institute and Deakin University - Australia yang menunjukkan bahwa pemikiran positif yang berlebihan bisa menciptakan ilusi. Ilusi ini justru berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Contoh sederhana selama Covid 19. Ada orang yang berpikir bahwa dia tidak akan terkena covid atau dia tidak akan sakit karena Covid, sehingga meresikokan dirinya dengan mengabaikan protokol kesehatan. Atau juga ada yang berpikir rokok dan alkohol tidak akan membahayakan kesehatannya. Meskipun riset kesehatan menunjukkan bahwa rokok dan Alkohol berbahaya bagi kesehatan, ia tidak peduli. Rangkaian penelitian menunjukkan bahwa ilusi positif berbahaya karena akan menghadapi realita yang berbeda sehingga justru berdampak pada kesehatan mental.


Penutup

Salah satu ciri orang dewasa adalah pemikirannya matang: tidak terbelenggu atau terpasung. Ia memikirkan hal-hal yang positif dengan standar dan kekuatan dalam Tuhan. Ia mengambil waktu berdiam, merenung, mempertimbangkan dengan cermat, menganalisa masalah, mempertimbangkan jalan keluar.


Download Slide presentasi disini


Support Blog

Support blog ini dengan subscribe Channel Youtube Victor Sumua Sanga dengan klik tombol di bawah: