Bersukacita (Filipi 1:12-19)


Apakah anda bersukacita saat ini? Mungkin anda berkata, “Saya bersukacita karena saya bisa berkuliah di kampus favorit dan nilai-nilai saya sangat memuaskan”; “Saya bersukacita karena saya memiliki mobil, motor, blackberry atau benda-benda  lainnya”; Saya bersukacita karena baru saja sembuh dari penyakit”; Saya bersukacita karena saya bisa mendapatkan apa saya yang saya inginkan.

Tetapi apakah anda akan bersukacita seandainya semua itu tidak terjadi? Bahkan yang terjadi justru sebaliknya? Apakah anda bisa tetap bersukacita sekalipun saudara tidak berkuliah di tempat favorit atau bahkan tidak bisa kuliah sama sekali. Apakah anda bisa tetap bersukacita andaikata tidak memiliki benda-benda berharga. Apakah anda bisa tetap bersukacita terbaring sakit dan tidak bisa disembuhkan, bahkan divonis hidupnya tinggal sebentar?

Apakah seseorang bias tetap bersukacita kendati pun kita mengalami hal yang tidak diinginkannya?

Kebenaran firman Tuhan ini mengajarkan kita dua hal:

Pertama, sukacita tidak ditentukan oleh kondisi sekitar

Artinya seorang bisa tetap mengalami sukacita meski ia mengalami hal yang tidak ia harapkan atau tidak ia inginkan.

Pada bagian Alkitab ini, Paulus menyakan dirinya berada dalam penjara. Di ayat 13 dinyatakan, “aku dipenjarakan.” Di ayat 14, “pemenjaraanku.” Di ayat 17, “dalam penjara.” Menariknya, di ayat 18 dinyatakan bahwa kendatipun Paulus berada di dalam penjara, ia bersukacita. Bahkan lebih jauh lagi Paulus mengatakan, di pasal 2:17, bahwa “sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.”

Bagian ini menunjukkan bahwa bukan kondisi sekitar yang menentukan sukacita seseorang. Paulus mengalami pemenjaraan, tetapi bersukacita. Oleh karena itu, seorang bisa saja mengalami sukacita meski kondisi sekitarnya tidak seperti yang diharapkan.

Kisah jemaat di Makedonia juga meneguhkan kebenaran ini. Dalam 2Kor. 8:2  dinyatakan bahwa, “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” Jemaat Makedonia tetap bersukacita kendatipun mereka menderita. Dan sukacita ini terlihat dari kemurahan hati mereka untuk memberi meski mereka orang-orang miskin.

Jadi Apakah kita bisa tetap bersukacita kendati pun kita mengalami hal yang tidak kita inginkan? Jawabannya BISA! Karena bukan kondisi sekitar kita yang menetukan sukacita kita.

Aplikasi
Saat kita tidak berada dalam penjara. Tetapi mungkin hidup kita terpenjara oleh berbagai penderitaan dan kesulitan. Kita mengalami pergumulan dan permasalahan. Mungkin ada yang terpenjara oleh persoalan ekonomi, terpenjara oleh konflik keluarga, terpenjara oleh masalah penyakit, pendidikan, relasi.

Ingat satu hal kondisi apa pun yang kita alami, itu tidak membuat saudara tidak lagi dapat merasakan sukacita. Persoalan ekonomi, penderitaan, penyakit, masalah keluarga tidak menetukan sukacita anda dan saya. Sekali lagi, sukacita tidak ditentukan oleh kondisi sekitar.

Kita lantas bertanya, “kalau begitu apa yang menetukan sukacita kita?” Apa yang bisa membuat kita bersukacita dalam berbagai kondisi?


Sukacita ditentukan oleh keyakinan akan karya Agung Allah dalam tiap kondisi.

Kita akan tetap mengalami sukacita dalam kondisi apapun, apabila kita meyakini bahwa Allah tetap berkarya dalam kondisi apapun yang kita alami. Jadi tugas kita untuk menemukan apa yang Allah kerjakan melalui kondisi apapun yang kita alami.

Paulus berhasil memahami karya Allah yang Agung itu dibalik peristiwa yang dialaminya, ini membuatnya tetap bersukacita kendatipun berada dalam penjara. Ia mampu melihat bahwa dibalik pemenjaraannya, Allah mengerjakan rencana-Nya yang agung.

Apakah karya Allah dibalik pemenjaraan Paulus? Mari kita lihat ayat 12, “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil.” Kemajuan Injil inilah yang merupakan karya Allah dibalik pemenjaraan Paulus.

Kemajuan Injil terlihat dari dua sisi. Pertama karena Paulus dipenjarakan, berita Injil bisa sampai ke Istana. Raja dan penghuni istana tahu berita tentang Kristus. Ini terlihat di ayat 13, “sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.” Dan lebih menarik lagi karena berita Injil ini pertama-tama keluar dari mulut para pendakwanya. Ini yang tertulis di ayat 15, 17.

Para pendakwa Paulus ini secara tidak langsung memberitakan Kristus kepada raja yang mengadili Paulus. Para pendakwa ini mengemukakan kisah Kristus dalam dakwaan mereka dengan sehingga seluruh istana akhirnya tahu berita tentang Kristus. Bagi para pendakwa Paulus berharap Paulus semakin lama dipenjarakan. Tetapi Paulus melihat itu justru membuat istana berita Injil Kristus.

Kemajuan Injil terlihat juga dari sisi pengikut-pengikut Paulus. Di ayat 14,16, dinyatakan bahwa dengan penjaranya Paulus, pengikut-pengikutnya semakin berani dan giat memberitakan Injil. Mereka tidak takut lagi dipenjarakan karena mereka melihat teladan Paulus yang berani membela Injil. Sekali lagi Injil diberitakan.

Paulus menyadari bahwa dibalik pemenjaraannya berita Injil semakin meluas pemberitaannya, karena itu ia bersukacita meski dipenjara.

Allah punya alasan untuk setiap hal yang Ia ijinkan terjadi dalam hidup kita. Menemukan alasan ini melahirkan sukacita dalam hidup kita. Menemukan alasan ini tidak mudah karena membutuhkan kepekaan rohani. Seorang yang mampu melihat kehendak Allah dibalik kondisi yang dialaminya adalah seorang intim dengan Tuhan.

“Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yohanes 15:10-11).

Jadi Langkah awal untuk memiliki sukacita sejati adalah harus melekat kepada Tuhan. Dengan melekat pada Tuhan, kita akan memahami karya-Nya dalam tiap kondisi yang kita alami. Ketika kita sudah memahaminya, maka akan timbul sukacita.

Ada seorang ibu yang ditinggal mati oleh suaminya. Peristiwa ini sangat menyakitkan bagi ibu ini. Suaminya meninggal tertabrak mobil di depan rumahnya ketika hendak menuju salon untuk potong rambut. Biasanya kalau suaminya potong rambut bareng dengan isteri, jadi sekalian. Hari itu baru sekali-sekalinya suami potong rambut sendiri. Itu pun di salon seberang rumah, tidak jauh. Jalan yang dia sebrangi pun bukan jalan lebar. Mobil jarang lewat di situ, tetapi hari itu kok pas mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Suaminya akhirnya meninggal.

Sekitar dua tahun ia tidak bisa menerima kematian suaminya, sampai suatu waktu ia menyadari ada yang berubah dari dirinya. Kalau dulu ketika suami ada apa-apa andalkan suami, bahkan Tuhan pun rasanya tidak dibutuhkan, tetapi dua tahun terakhir apa-apa doa, tanya Tuhan. Akhirnya dia memahami bahwa sebenarnya melalui kematian suaminya ia diajarkan arti berharap sepenuhnya pada Tuhan. Kesadaran inilah yang membuatnya sukacita atas karya Allah atas dirinya.

Aplikasi
Ketika kita menghadapi kondisi yang tidak kita inginkan, ingat bahwa kita bisa tetap bersukacita dalam kondisi tersebut. Sukacita ini lahir dari pemahaman akan karya atau alasan Allah dibalik setiap kondisi yang kita alami. Dan untuk memahami ini kita perlu memiliki hubungan yang dekat dengan Allah.